Results for Berita Budaya

Ketika Ribuan Warga Tumpah ke Jalan, Tradisi Leluhur Kembali Menghidupkan Kuningan

 

Penulis Mulyono


Seba Sapton dan Babarit bukan sekadar helaran. Ia adalah cara Kuningan mengingat dari mana dirinya berasal.

KUNINGAN –  LINTAS

Jalan Siliwangi, Sabtu (5/9/2026), mendadak berubah menjadi panggung raksasa.

Bukan panggung dengan lampu gemerlap dan musik modern. Kali ini yang mengambil alih perhatian adalah barisan prajurit, pusaka, panah, tombak, kujang, angklung, tari tradisional, tumpeng, serta wajah-wajah warga yang sejak siang berjubel di sepanjang jalur helaran.

Ribuan masyarakat tumpah ruah.

Mereka datang bukan sekadar untuk melihat sebuah pertunjukan. Banyak yang datang untuk menyaksikan sesuatu yang bagi masyarakat Kuningan memiliki makna jauh lebih dalam: tradisi leluhur yang masih bertahan di tengah zaman yang terus berubah.

Seba Sapton dan Babarit kembali digelar dalam rangkaian Hari Jadi ke-528 Kuningan dengan mengusung tema “Ajeg Purbawisesa”.

Di tengah hiruk-pikuk perayaan hari jadi, tradisi itu seperti membuka kembali lembaran masa lalu. Kuningan seolah sedang berbicara kepada warganya sendiri—bahwa modernitas boleh bergerak cepat, tetapi akar budaya tidak boleh tercerabut.

Dari kawasan Taman Kota, peserta Seba Sapton berkumpul. Alunan Tatalu dari Tim Seni Seba Bhakti Raharja kemudian menggema dari Pendopo Kabupaten Kuningan.

Lima Kademangan bersiap.

Pukul 13.30 WIB, prosesi Kirab Keprajuritan “Nganjang Ka Pendopo Raja” dimulai.

Para camat tampil sebagai Demang bersama kontingen dari wilayah masing-masing. Mereka berjalan membawa identitas budaya dan simbol keprajuritan yang menjadi bagian dari prosesi Seba.

Suasana semakin hidup ketika rombongan tiba di depan Pendopo.

Di sana, Pangbage Kanjeng Raja atau Bupati Kuningan, Kanjeng Patih atau Wakil Bupati Kuningan, serta para Gedeng menyambut kedatangan mereka.

Bukan sekadar seremoni.

Ada pusaka yang diserahkan. Ada kujang yang menjadi simbol. Ada busur panah yang dilepaskan sebagai penanda dimulainya rangkaian acara.

Kemudian, doa dibacakan.

Tari kolosal Gelar Budaya Seba Sapton “Ajeg Purbawisesa” tampil menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.

Lima Kademangan, Lima Warna Tradisi

Satu demi satu hasil Seba diserahkan.

Lima Kademangan tampil membawa karakter masing-masing.

Kademangan Jaya Giri, yang meliputi Sindangagung, Kuningan, Cigugur, Kadugede, Nusaherang, dan Kramatmulya, menghadirkan keprajuritan panah dan kesenian Angklung Buncis.

Kademangan Mandala Jaya, meliputi Ciawigebang, Kalimanggis, Garawangi, Maleber, Lebakwangi, dan Cipicung, membawa keprajuritan pedang-tameng serta Reog Pencak.

Kademangan Bratasana Jaya, yang meliputi Jalaksana, Cigandamekar, Cilimus, Pancalang, Japara, Mandirancan, dan Pasawahan, tampil dengan tombak-tameng serta Seni Tari Tombak Wayang.

Kademangan Raksakancana Jaya, meliputi Cidahu, Cibingbin, Cibeureum, Cimahi, Karangkancana, Ciwaru, dan Luragung, menghadirkan keprajuritan gada serta Tari Angkol.

Sementara Kademangan Suradipati Jaya, yang meliputi Darma, Cilebak, Subang, Selajambe, Hantara, dan Ciniru, membawa Kujang Satia Pusaka Wibawa Nagara serta Tari Rudat.

Di balik simbol-simbol itu tersimpan pesan sederhana: keberagaman wilayah tidak harus membuat masyarakat berjalan sendiri-sendiri.

Justru dari perbedaan itulah kebersamaan dibangun.

Setelah Seba diserahkan, amanat disampaikan. Kemudian berlangsung prosesi Nawur Asih, berupa pembagian hasil Seba, tumpeng, dan gunungan sayur kepada masyarakat.

Di titik inilah batas antara penonton dan pelaku tradisi seolah menghilang.

Masyarakat bukan lagi sekadar menyaksikan.

Mereka ikut menerima.

Ikut menikmati.

Ikut merasakan.

Ketika Babarit Mengubah Suasana

Menjelang sore, setelah waktu istirahat dan salat Ashar, suasana kembali berubah.

Prosesi Babarit dimulai.

Rajah dan Kidung Pembuka mengawali rangkaian. Kemudian disusul tari sakral sebagai simbol Babarit, Tayub Menak, Tepak Soder, Tari Kangsreng, hingga Tari Masal.

Seni tradisi bukan lagi sesuatu yang hanya tersimpan dalam buku sejarah.

Ia hadir di depan mata.

Bergerak.

Bernyawa.

Dan ditonton ribuan pasang mata.

Puncaknya adalah Murak Tumpeng.

Tumpeng tidak lagi berdiri sebagai simbol di tengah acara. Ia dibagikan dan dinikmati bersama.

Masyarakat berkumpul, menyantap hidangan, membawa sayuran hasil Seba untuk keluarga di rumah.

Ada sesuatu yang sederhana tetapi kuat dari adegan itu.

Makan bersama menjadi bahasa yang tidak membutuhkan penerjemah.

Tidak ada jarak antara pejabat dan warga ketika semua duduk dalam suasana kebersamaan. Tradisi berubah menjadi ruang perjumpaan.

Rangkaian kemudian ditutup dengan tari bersama yang melibatkan jajaran pejabat, tamu undangan, dan masyarakat.

Merawat Tradisi, Merawat Masa Depan

Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., menilai Seba Sapton dan Babarit merupakan bagian penting dari upaya mempertahankan warisan leluhur.

Apalagi tahun sebelumnya tradisi tersebut tidak digelar karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan.

Tahun ini, Sapton bahkan hadir dengan wajah berbeda.

Jika sebelumnya dilaksanakan di Lapang Cijoho dan lebih banyak dinikmati para peserta, kini prosesi dipindahkan ke Jalan Siliwangi agar dapat disaksikan masyarakat lebih luas.

Hasilnya terlihat jelas.

Jalanan penuh.

Warga berdiri berdesakan.

Anak-anak ikut menyaksikan.

Orang tua membawa keluarga.

Tradisi yang sempat tidak digelar kembali menemukan penontonnya.

Bagi Dian, antusiasme tersebut menjadi tanda bahwa tradisi leluhur masih mempunyai tempat di hati masyarakat.

“Tradisi leluhur dari waktu ke waktu terus kita pertahankan. Mudah-mudahan menghormati tradisi dan merawat tradisi ini juga sepertinya merawat masa depan,” ungkapnya.

Kalimat itu terasa tepat untuk menggambarkan suasana hari itu.

Sebab tradisi memang bukan hanya tentang masa lalu.

Tradisi adalah tentang bagaimana sebuah masyarakat membawa ingatan masa lalunya menuju masa depan.

Dari Sebuah Tumpeng, Ada Pesan Kebersamaan

Dian juga menyoroti pembagian makanan dan sayuran hasil Seba kepada masyarakat.

Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya sebungkus sayuran atau sepotong tumpeng.

Namun dalam tradisi, pemberian itu memiliki makna yang lebih besar: berbagi rezeki, rasa syukur, dan ngala berkah.

Masyarakat membawa sebagian hasil Seba pulang.

Bukan hanya membawa makanan, tetapi juga membawa cerita.

Cerita tentang hari ketika Kuningan kembali merayakan dirinya.

“Saya senang hari ini masyarakat bisa tersenyum bahagia di Hari Ulang Tahun Kuningan, Hari Ulang Tahun kita bersama,” ujar Dian.

Dan mungkin itulah inti dari sebuah perayaan.

Bukan kemeriahan semata.

Melainkan ketika masyarakat merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Tradisi yang Tak Mau Mati

Di antara ribuan warga yang menyaksikan helaran, Oom (60), warga Desa Sagahariang, Kecamatan Darma, datang bersama cucunya.

Ia bukan penonton baru.

Setiap tahun ia berusaha menyaksikan Seba Sapton dan Babarit.

Namun tahun ini menurutnya terasa berbeda.

Lebih ramai.

Lebih dekat.

Lebih meriah.

“Saya sengaja datang bersama cucu untuk melihat langsung,” tuturnya.

Kalimat sederhana itu sebenarnya menyimpan pesan yang panjang.

Seorang kakek datang membawa cucunya menyaksikan tradisi.

Yang satu membawa ingatan.

Yang satu membawa masa depan.

Di antara keduanya, Seba Sapton dan Babarit menjadi jembatan.

Dan selama masih ada orang tua yang mengajak anak-anaknya datang, selama masih ada masyarakat yang memenuhi jalan untuk menyaksikan, selama tumpeng masih dibagi dan dinikmati bersama, tradisi itu belum mati.

Ia masih hidup.

Ia masih dirawat.

Dan di Hari Jadi ke-528 ini, Kuningan kembali menunjukkan bahwa masa lalu tidak harus ditinggalkan untuk melangkah menuju masa depan.

Sebab sebuah daerah akan kehilangan arah ketika ia lupa pada akar yang membuatnya tumbuh.

Seba Sapton dan Babarit hari itu bukan sekadar helaran.

Ia adalah pengingat bahwa Kuningan masih punya cerita untuk diwariskan.

 



 

ads 728x90 B
Diberdayakan oleh Blogger.