Dugaan IPAL Asal-Asalan, Dapur MBG Sindang Kempeng Abaikan Teguran Kecamatan
Kuningan - LINTAS
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) semestinya menghadirkan makanan sehat dan bergizi bagi masyarakat. Namun, di Desa Sindang Kempeng, Kecamatan Pancalang, persoalan justru muncul dari tempat limbah dapurnya bermuara.
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) milik Dapur MBG Sindang Kempeng disorot setelah diduga dibangun tanpa memperhatikan standar teknis pengolahan limbah. Alih-alih memastikan air limbah melalui proses pengolahan yang layak, fasilitas tersebut diduga hanya mengandalkan sistem sederhana yang berpotensi membuat limbah mengalir ke area pesawahan warga.
Persoalan ini bukan temuan yang sama sekali luput dari perhatian pemerintah kecamatan.
Pihak Kecamatan Pancalang sebelumnya telah memberikan pembinaan kepada pengelola Dapur MBG. Namun, pembinaan tersebut disebut tidak ditindaklanjuti secara serius. Kondisi itu akhirnya mendorong camat setempat melayangkan surat teguran resmi kepada pengelola, disertai tenggat waktu perbaikan hingga akhir bulan ini.
Limbah Dialirkan ke Kolam, Berujung ke Pesawahan
Hasil investigasi langsung awak media di lokasi menemukan kondisi IPAL yang menjadi sorotan. Fasilitas tersebut diketahui mengandalkan mesin penyedot air yang mengalirkan limbah menuju sebuah kolam kecil. Persoalannya, proses pengolahan itu diduga tidak dilengkapi tahapan penyaringan atau filtrasi yang layak sebelum air limbah akhirnya dibuang ke area pesawahan warga.
Jika kondisi tersebut benar adanya, persoalan bukan sekadar menyangkut bentuk atau konstruksi IPAL. Limbah yang tidak melalui proses pengolahan secara memadai berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan, terlebih ketika alirannya berakhir di lahan pertanian yang berada di sekitar permukiman warga.
Di titik inilah keberadaan IPAL Dapur MBG Sindang Kempeng menjadi penting untuk dipertanyakan: apakah fasilitas tersebut benar-benar berfungsi sebagai instalasi pengolahan limbah, atau hanya menjadi jalur pemindahan limbah dari dapur menuju lingkungan sekitar?
Sudah Ditegur, Mengapa Belum Diperbaiki?
Yang membuat persoalan ini semakin menjadi perhatian adalah adanya informasi bahwa pemerintah kecamatan telah lebih dahulu melakukan pembinaan.
Artinya, persoalan tersebut bukan semata-mata temuan baru setelah muncul sorotan media. Pengelola disebut telah mendapatkan perhatian dan pembinaan dari pihak Kecamatan Pancalang.
Namun, ketika pembinaan dinilai tidak diindahkan, langkah berikutnya ditempuh melalui surat teguran resmi. Pengelola diberikan waktu hingga akhir bulan ini untuk melakukan perbaikan.
Tenggat waktu tersebut kini menjadi penting. Sebab, jika perbaikan tidak dilakukan, persoalan IPAL Dapur MBG Sindang Kempeng berpotensi berkembang menjadi persoalan yang lebih serius, terutama jika pembuangan limbah terus berlangsung ke lingkungan sekitar.
Kepala Dapur Tak Bisa Ditemui
Awak media kemudian berupaya meminta penjelasan langsung dari pengelola Dapur MBG Sindang Kempeng mengenai kondisi IPAL tersebut.
Namun, upaya konfirmasi belum mendapatkan jawaban dari kepala dapur.
Kepala Dapur MBG Sindang Kempeng disebut tidak dapat ditemui karena sedang beristirahat.
“Kepala dapurnya lagi tidur, Pak, jadi tidak bisa menemui,” ujar salah seorang relawan yang tengah bertugas di lokasi.
Ketiadaan pengelola untuk memberikan penjelasan membuat sejumlah pertanyaan terkait kondisi IPAL tersebut belum mendapatkan jawaban langsung dari pihak dapur.
Terutama mengenai desain dan fungsi IPAL, mekanisme pengolahan limbah, hingga alasan limbah dapat dialirkan menuju area pesawahan warga.
Menunggu Inspeksi dan Kejelasan
Persoalan ini rencananya tidak berhenti pada temuan lapangan. Awak media bersama warga berencana melaporkan indikasi pelanggaran tersebut kepada Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Cirebon. Pihak terkait didesak segera turun melakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan.
Jika dalam pemeriksaan ditemukan adanya pelanggaran terhadap ketentuan teknis pengelolaan limbah, warga berharap terdapat tindakan sesuai aturan.
Sebab, dapur MBG bukan hanya dituntut menghasilkan makanan yang bergizi. Kebersihan dan kesehatan seharusnya menjadi satu kesatuan, mulai dari proses produksi makanan hingga bagaimana limbah yang dihasilkan ditangani.
Jangan sampai program yang bertujuan menghadirkan makanan bergizi justru menyisakan persoalan baru di belakang dapur.
Kini publik menunggu: apakah teguran Kecamatan Pancalang benar-benar ditindaklanjuti, atau persoalan IPAL Dapur MBG Sindang Kempeng kembali dibiarkan hingga limbah terus mengalir ke lingkungan warga?
(Red)






