PWRI Kuningan Teguhkan Pengabdian, Bersinergi Dukung Kuningan Melesat


KUNINGAN –  LINTAS

Semangat pengabdian dan kebersamaan terus dikobarkan Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Kuningan dalam memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-64. Kegiatan yang berlangsung, Kamis (13/0/8/2026) di Gedung GOW Kabupaten Kuningan tersebut menjadi momentum memperkuat silaturahmi sekaligus meneguhkan peran para pensiunan dalam mendukung pembangunan daerah.

Mengusung tema “Dengan Semangat Persatuan, Kesatuan, dan Kekompakan Anggota PWRI Kabupaten Kuningan Mendukung Pembangunan Kabupaten Kuningan Melesat”, peringatan HUT PWRI diikuti para anggota dan jajaran pengurus organisasi.

Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani, S.H., M.Kn., hadir mewakili Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. yang pada saat bersamaan harus menghadiri kegiatan TMMD di Desa Gunungmanik, Kecamatan Ciniru. Kedudukan Dian-Tuti sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kuningan periode 2025–2030 terkonfirmasi dalam data resmi Pemerintah Kabupaten Kuningan.

Dalam sambutan Bupati yang dibacakan Wabup Tuti, disampaikan bahwa usia 64 tahun bukan sekadar angka bagi PWRI. Perjalanan panjang tersebut menyimpan sejarah, pengalaman, perjuangan, serta pengabdian para Wredatama yang telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya bagi bangsa dan negara.

“Pengabdian tidak pernah mengenal kata selesai. Tenaga boleh berkurang, tetapi keteladanan jangan pernah surut. Jabatan boleh ditinggalkan, tetapi pengabdian tidak boleh dilupakan. Usia boleh bertambah, tetapi semangat untuk memberi manfaat harus tetap menyala,” demikian pesan Bupati.

Menurutnya, PWRI tidak hanya menjadi organisasi yang menghimpun para pensiunan, tetapi juga merupakan rumah besar bagi para senior untuk mewariskan pengalaman, kebijaksanaan, serta nilai-nilai pengabdian kepada generasi berikutnya.

Hal tersebut dinilai semakin penting di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat. Pembangunan daerah, kata Bupati, tidak cukup hanya mengandalkan energi generasi muda, tetapi juga membutuhkan pengalaman generasi terdahulu sebagai kompas agar pembangunan tetap berada pada arah yang tepat.

Dalam kerangka Kuningan Melesat, Pemerintah Kabupaten Kuningan berupaya membangun daerah yang maju, memberdayakan, lestari, agamis, dan tangguh. Karena itu, kolaborasi lintas generasi menjadi bagian penting dalam mewujudkan visi tersebut.

“Generasi muda membawa energi, kreativitas, dan keberanian menghadapi perubahan. Sementara para senior membawa pengalaman, kebijaksanaan, dan pelajaran berharga dari perjalanan panjang pengabdian,” ungkapnya.

Pemerintah Kabupaten Kuningan pun berharap PWRI dapat terus menjadi mitra strategis pemerintah daerah, khususnya melalui masukan, pemikiran, pengalaman, dan gagasan bagi kemajuan Kabupaten Kuningan.

Sementara itu, Ketua PWRI Kabupaten Kuningan dalam sambutannya menegaskan bahwa para Wredatama memiliki semangat untuk tetap berkontribusi meskipun telah memasuki masa purnabakti.

Ia menjelaskan, istilah Wredatama memiliki makna filosofis yang kuat. “Wreda” dimaknai sebagai tua, sedangkan “Tama” berarti utama. Dengan demikian, Wredatama dimaknai sebagai orang tua yang utama.

Menurutnya, masa pensiun bukan berarti berakhirnya kewajiban sebagai warga negara. Para pensiunan tetap memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan keteladanan, menjaga persatuan, menghormati pemimpin, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Walaupun sudah tua, kami punya moto: Guru, Ratu, Wong Atua Karo Wajib Disembah. Artinya kami tetap menghormati guru, pemimpin, serta orang tua,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Kuningan, GOW, organisasi kemasyarakatan, perbankan, serta seluruh pihak yang selama ini mendukung kegiatan PWRI.

Semangat tersebut turut tercermin dari rangkaian kegiatan HUT PWRI yang telah dilaksanakan sebelumnya. Para anggota PWRI disebut tetap menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti berbagai kegiatan, meskipun sebagian besar telah memasuki usia pensiun.

Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan sejarah perjalanan organisasi pensiunan hingga lahirnya PWRI.

Sebelum terbentuknya PWRI, berbagai organisasi pensiunan telah berkembang di sejumlah daerah setelah Indonesia merdeka. Sejumlah organisasi kemudian berproses menuju penyatuan hingga pada kongres di Yogyakarta pada Juli 1962 lahirlah organisasi yang kemudian dikenal sebagai Persatuan Wredatama Republik Indonesia.

PWRI selanjutnya menjadi wadah bagi para pensiunan untuk tetap menjaga semangat perjuangan dan pengabdian kepada bangsa dan negara.

Makna tersebut menjadi relevan dengan pesan Pemerintah Kabupaten Kuningan bahwa masa purnabakti bukanlah akhir dari pengabdian.

Pengalaman panjang para pensiunan diharapkan tetap menjadi sumber pengetahuan dan kebijaksanaan yang dapat diwariskan kepada generasi penerus.

Peringatan HUT ke-64 PWRI Kabupaten Kuningan pun ditutup dengan semangat kebersamaan dan optimisme untuk terus berkontribusi bagi daerah

(MULYONO)

Tidak ada komentar:

 



 

ads 728x90 B
Diberdayakan oleh Blogger.