Dari 3,5 Ton Menjadi 6,3 Ton, GEMBOL dan Harapan Baru Petani Boled Kuningan

 Penulis Mulyono


KUNINGAN – LINTAS NASIONAL 

 Jalan yang mulus, gedung yang megah, dan teknologi yang semakin maju tidak akan banyak berarti jika kebutuhan paling dasar manusia, yakni pangan, tidak mampu dipenuhi.

Pandangan itulah yang ditegaskan Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., saat meluncurkan GEMBOL (Gerakan Menanam Boled) dalam kegiatan Sosialisasi Demplot Pertanian Tahun Anggaran 2026 dan Penyerahan Bantuan Sarana Produksi Pertanian di Lapangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Senin (21/9/2026).

“Percuma jalan bagus, gedung bagus, teknologi maju, kalau kita tidak bisa makan. Intinya pembangunan itu harus mengutamakan ketahanan pangan,” ujar Bupati.

Dari sinilah cerita tentang boled—sebutan masyarakat Sunda untuk ubi jalar—mendapat ruang lebih besar dalam agenda pembangunan pertanian Kuningan.

Bagi Bupati Dian, pertanian bukan sekadar aktivitas menanam dan memanen. Di dalamnya terdapat persoalan ketahanan pangan, lapangan pekerjaan, nilai ekonomi, hingga masa depan kesejahteraan masyarakat.

Ia bahkan mengingatkan agar pandangan lama yang mengidentikkan profesi petani dengan kemiskinan mulai ditinggalkan.

Menurutnya, perkembangan pasar dan meningkatnya perhatian pemerintah terhadap ketahanan pangan justru membuka peluang baru bagi generasi muda untuk menekuni pertanian secara lebih modern dan profesional.

Salah satu komoditas yang dinilai memiliki peluang besar adalah ubi jalar.

Kuningan memiliki potensi boled yang tidak hanya dapat dijual sebagai bahan pangan, tetapi juga dikembangkan melalui pengolahan sehingga menghasilkan nilai tambah dan membuka akses menuju pasar yang lebih luas.

Bupati Dian menceritakan pengalamannya ketika melihat produk olahan ubi jalar asal Kuningan dalam sebuah festival makanan internasional di Seoul, Korea Selatan.

Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bukti bahwa komoditas lokal sebenarnya memiliki peluang untuk menembus pasar luar negeri apabila dikelola secara serius.

“Boled ini prospeknya luar biasa. Korea, Jepang dan negara-negara Asia lainnya sudah mulai melirik makanan yang sehat seperti ubi jalar. Ini peluang yang harus kita manfaatkan,” ungkapnya.

Namun, perjalanan menuju pertanian yang kuat tidak cukup hanya dengan memperbanyak produksi.

Petani harus memiliki pengetahuan, teknologi, kelembagaan, akses terhadap sarana produksi, hingga jaringan pemasaran. Sebab, hasil pertanian akan memberikan manfaat yang lebih besar apabila nilai tambahnya juga kembali kepada petani.

Karena itu, Bupati Dian mendorong petani untuk membangun kelembagaan yang kuat dan mengedepankan kebersamaan.

“Kalau kita berjuang sendiri-sendiri mungkin tidak terdengar. Tetapi kalau petani kompak dan memiliki kelembagaan, posisi tawarnya akan berbeda,” katanya.

Dari Demplot, Petani Melihat Perubahan

Apa yang disampaikan pemerintah tersebut bukan sekadar konsep di atas kertas.

Pengalaman Pak Bangun, petani dari Desa Linggamekar, Kecamatan Cilimus, menjadi salah satu gambaran bagaimana pengetahuan dan pola budidaya dapat memengaruhi hasil panen.

Sebelum menerapkan pola budidaya dan pemupukan berdasarkan hasil demplot ubi jalar, produksi di wilayahnya berada di kisaran 3,5 ton per 100 bata.

Setelah pola tersebut diterapkan, produktivitas meningkat hingga sekitar 6,3 ton per 100 bata pada musim penghujan.

Angka itu menjadi pengalaman penting bagi para petani bahwa peningkatan hasil tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pupuk yang diberikan.

Bangun menjelaskan, keberhasilan budidaya ubi jalar ditentukan oleh proses yang saling berkaitan, mulai dari persiapan lahan, kondisi pH tanah, pemilihan bibit, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, hingga perawatan tanaman.

Dari pengalaman tersebut, demplot menjadi semacam ruang belajar bagi petani untuk melihat secara langsung pola budidaya yang dapat diterapkan di lapangan.

Namun, Bangun juga menyampaikan persoalan lain yang masih dihadapi petani, yakni keterbatasan alat dan mesin pertanian.

Lahan pertanian di wilayahnya mencapai ratusan hektare, sementara ketersediaan traktor hanya satu atau dua unit.

“Kami berharap bantuan untuk alat pertanian, terutama traktor, karena di tempat kami lahannya ratusan hektare sementara traktornya hanya satu atau dua. Kalau mau menggunakan, harus menunggu cukup lama,” ungkapnya.

Kuningan dalam Peta Kawasan Pertanian Nasional

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Wahyu Hidayah, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat pembangunan pertanian melalui demplot, peningkatan kapasitas kelembagaan, serta pemberian bantuan sarana produksi.

Posisi Kuningan dalam pembangunan pertanian juga memiliki dasar kebijakan nasional.

Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 02/KPTS/2025 tentang Kawasan Pertanian Nasional, Kabupaten Kuningan ditetapkan sebagai bagian dari kawasan pertanian nasional untuk sejumlah komoditas tanaman pangan.

Kawasan tersebut meliputi 27.716 hektare untuk komoditas padi, 2.500 hektare jagung, 1.180 hektare ubi kayu, serta 2.530 hektare ubi jalar.

Bagi Wahyu, angka-angka tersebut bukan sekadar luasan kawasan yang tercantum dalam dokumen pemerintah.

“Kebijakan ini bukan hanya angka dalam sebuah dokumen. Ini adalah amanah, peluang sekaligus tanggung jawab. Kawasan pertanian yang telah ditetapkan harus kita isi dengan produktivitas, inovasi, peningkatan kualitas, penguatan kelembagaan dan peningkatan kesejahteraan petani,” ujar Wahyu.

Karena itu, pada kegiatan tersebut pemerintah juga menyerahkan bantuan sarana produksi berupa pupuk kepada 300 petani ubi jalar di Kabupaten Kuningan.

Bantuan tersebut, kata Wahyu, tidak boleh berhenti sebagai pemberian barang.

Pupuk hanyalah salah satu input produksi. Tujuan akhirnya tetap pada peningkatan produktivitas, keuntungan usaha tani, dan kesejahteraan keluarga petani.

“Bantuan tanpa pengetahuan tidak akan optimal, teknologi tanpa pendampingan tidak akan maksimal, dan produksi tanpa kelembagaan yang kuat akan sulit berkembang menjadi kekuatan ekonomi,” jelasnya.

GEMBOL dan Masa Depan Boled Kuningan

Di titik inilah GEMBOL diluncurkan.

Gerakan Menanam Boled Kabupaten Kuningan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan jumlah tanaman ubi jalar. Gerakan ini diharapkan menjadi bagian dari ekosistem pertanian yang lebih panjang—dari budidaya, peningkatan produktivitas, pengolahan hasil, hingga perluasan pasar.

Bupati Dian secara resmi meluncurkan GEMBOL (Gerakan Menanam Boled) sebagai salah satu langkah untuk mendorong pengembangan komoditas ubi jalar di Kabupaten Kuningan.

Ia berharap gerakan tersebut dapat menjadi pengungkit bagi petani agar tidak hanya menghasilkan lebih banyak, tetapi juga mendapatkan nilai tambah yang lebih besar dari hasil pertanian mereka.

“Dengan tekad Bapak dan Ibu semua untuk mendorong pertanian semakin maju, insyaallah saya sebagai Bupati akan terus memberikan perhatian. Mudah-mudahan ketahanan pangan Kuningan, termasuk boled, semakin meningkat dari waktu ke waktu,” tutur Bupati.

Di sisi lain, pemerintah menyadari bahwa keberhasilan gerakan tersebut tidak dapat dikerjakan sendirian.

Petani membutuhkan pendampingan. Penyuluh membutuhkan dukungan. Pemerintah membutuhkan keterlibatan kelompok tani. Semua unsur tersebut harus berjalan dalam satu arah.

“Yang paling penting adalah kerja sama dan kekompakan antara petani, pemerintah dan PPL. Dengan kerja sama dan kekompakan, saya yakin hasil pertanian kita bisa terus meningkat,” pungkasnya.

Peluncuran GEMBOL kemudian ditandai dengan pernyataan resmi Bupati Kuningan bahwa Gerakan Menanam Boled Kabupaten Kuningan telah diluncurkan.

Dari lahan pertanian, demplot, bantuan pupuk hingga cita-cita menembus pasar luar negeri, boled kini ditempatkan bukan semata sebagai komoditas pangan lokal.

Ia diproyeksikan menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka ruang ekonomi baru bagi petani.

Harapannya sederhana, tetapi memiliki makna besar: produksi meningkat, nilai tambah tumbuh, pasar semakin luas, dan pada akhirnya kesejahteraan petani Kuningan ikut terangkat.

Tidak ada komentar:

 



 

ads 728x90 B
Diberdayakan oleh Blogger.