Pendopo Kuningan Memanas, Demo Geothermal Nyaris Bentrok dengan Polisi

 Penulis Mulyono/ Indrya Purnamasari 



KUNINGAN — LINTAS

Suasana di Pendopo Kuningan nyaris meledak. Sekitar 100 pendemo yang menolak rencana proyek geothermal terlibat ketegangan dengan aparat kepolisian setelah Bupati Kuningan yang mereka tunggu belum juga muncul, Senin (5/10/2026).

Massa yang terdiri dari mahasiswa UNIKU, UNISA dan Muhammadiyah serta elemen masyarakat SRC (Serikat Rakyat Cirebon) dan PMK (Peduli Masyarakat Kuningan) datang dengan tuntutan tegas: jelaskan proyek geothermal dan jangan pertaruhkan Gunung Ciremai dengan risiko yang belum terang.

Ketegangan meningkat ketika waktu terus berjalan, sementara Bupati Kuningan bersama unsur pimpinan daerah belum terlihat di lokasi.

Emosi massa memuncak. Adu ketegangan dengan aparat Polres Kuningan nyaris berubah menjadi benturan fisik. Suasana di sekitar Pendopo pun sempat panas sebelum akhirnya diredam setelah para pendemo dipersilakan memasuki halaman Pendopo untuk menunggu kedatangan Bupati.

Sekitar satu jam berselang, Bupati Kuningan H. Dian Rachmat Yanuar akhirnya datang. Ia didampingi Wakil Bupati Tuti Andriani, Sekda Kuningan Uu Kusmana, Kapolres Kuningan AKBP Bellen Anggara Pratama, S.I.K., M.H., serta Kepala TGNC Suhardi, S.E., S.Hut.

Namun kedatangan jajaran pimpinan daerah tidak serta-merta mengakhiri ketegangan.

Massa langsung mengarahkan pertanyaan kepada Bupati: untung atau rugi jika geothermal benar-benar dibangun dan mulai beroperasi?

Bagi para pendemo, pertanyaan tersebut bukan sekadar soal investasi. Mereka mengkhawatirkan konsekuensi terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat di sekitar Gunung Ciremai.

Kerusakan hutan, terganggunya sumber mata air hingga ancaman penyakit menjadi sejumlah kekhawatiran yang disampaikan massa.

Mereka juga membawa pengalaman proyek geothermal di Dieng sebagai contoh yang menurut mereka harus menjadi pelajaran sebelum proyek serupa dijalankan di kawasan Ciremai.

“Kami rakyat yang ada di wilayah Indramayu, Cirebon, Majalengka dan Kuningan tetap menolak keberadaan proyek geothermal. Kami tidak mau dampak kerusakannya akan menyengsarakan rakyat yang ada di kabupaten penyangga wilayah Gunung Ciremai,” teriak pendemo.

Di tengah tekanan massa, Bupati Dian menyatakan Pemkab Kuningan hingga saat ini belum mengetahui secara persis perkembangan rencana proyek geothermal tersebut.

Alasannya, pemerintah daerah mengaku belum menerima pemberitahuan resmi mengenai perkembangan proyek tersebut.

Dian mengungkapkan, saat dirinya masih menjabat Sekda Kuningan, isu geothermal memang sudah pernah muncul. Namun ketika itu prosesnya masih berada pada tahap survei dan kajian.

“Dulu waktu saya masih menjabat Sekda, isu geothermal memang sudah ada dan waktu itu pihak pusat, provinsi dan pihak broker geothermal masih dalam konteks survei dan kajian saja. Jika saya mengatakan tidak tahu perkembangannya ya itu kan karena memang pihak Pemda Kuningan hingga saat ini belum menerima secara resmi,” ujar Dian.

Pernyataan tersebut kemudian menjadi sorotan massa.

Para pendemo mempertanyakan bagaimana pemerintah daerah bisa belum mengetahui perkembangan proyek yang mereka nilai berpotensi memberikan dampak besar terhadap kawasan Gunung Ciremai dan wilayah penyangganya.

Mereka menilai informasi mengenai rencana geothermal semestinya dibuka secara transparan kepada masyarakat, terlebih jika proyek tersebut nantinya berkaitan dengan kawasan hutan, sumber air dan ruang hidup warga.

Bagi massa, Ciremai bukan sekadar lokasi proyek. Ciremai adalah sumber kehidupan.

Karena itu, mereka menegaskan penolakan terhadap rencana geothermal dan meminta pemerintah tidak mengabaikan suara masyarakat.

Aksi di Pendopo Kuningan akhirnya berlangsung dalam forum dialog setelah Bupati dan jajaran pemerintah daerah hadir. Namun ketegangan yang sempat nyaris pecah menjadi benturan menunjukkan satu hal: rencana geothermal kini bukan lagi sekadar isu yang beredar di balik meja kajian. Persoalan itu telah turun ke jalan dan berhadapan langsung dengan suara masyarakat.

Pertanyaan besar pun masih menggantung: sejauh mana rencana proyek geothermal tersebut telah berjalan, siapa yang mengetahui perkembangannya, dan bagaimana nasib hutan serta sumber mata air Ciremai jika proyek itu benar-benar direalisasikan?

Tidak ada komentar:

 



 

ads 728x90 B
Diberdayakan oleh Blogger.