Penulis Indrya Purnamasari
KUNINGAN – LINTAS NASIONAL
Kopi bukan sekadar minuman yang diseduh untuk mengusir kantuk. Di Desa Cipasung, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, kopi tumbuh menjadi bagian dari cerita panjang tentang potensi desa, pemberdayaan petani, hingga upaya membangun identitas kopi lokal Kuningan.
Perjalanan itu bukan cerita yang baru dimulai kemarin. Cikal bakal pengembangan kopi di Cipasung telah berjalan sejak 2015 Perjalanan tersebut kemudian mendapatkan penguatan melalui kolaborasi dengan Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti hingga pada 2021 dilakukan pengembangan dan peresmian yang melibatkan Bupati Kuningan saat itu, H. Acep Purnama, bersama pihak Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti.
Jejak pengembangan tersebut salah satunya terlihat dari lahirnya Agrowisata Kopi Sirung Tanjung di Desa Wisata Cipasung. Institut Pariwisata Trisakti mencatat, program pengembangan agrowisata kopi ini didukung melalui kolaborasi antara STP Trisakti, Indonesia Financial Group (IFG), kelompok tani kopi, Pokdarwis dan Desa Wisata Cipasung.
Bahkan pada April 2021, dilakukan penyerahan berbagai peralatan pengolahan kopi, mulai dari alat pascapanen, mesin roasting hingga mesin espresso. Momentum itu sekaligus menjadi bagian penting dalam mendorong kopi Cipasung tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi memiliki nilai tambah melalui proses pengolahan dan penyajian.
Dari Afrika, Menemukan Karakter di Cipasung
Menariknya, cerita kopi di Cipasung juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah tanaman kopi yang berasal dari Afrika.
Namun, ketika kopi tumbuh di tanah Kuningan, karakter yang dihasilkan tidak berhenti pada persoalan asal-usul tanaman. Cita rasa, aroma, karakter biji, ketinggian lahan, proses budidaya hingga pascapanen ikut menentukan pengalaman yang dirasakan penikmatnya.
Di Cipasung, setidaknya ada tiga jenis kopi yang menjadi bagian dari cerita tersebut, yakni Arabika, Robusta dan Liberika
Ketiganya bukan sekadar berbeda nama. Masing-masing memiliki karakter cita rasa tersendiri. Inilah yang kemudian menjadi kekayaan bagi kopi lokal Kuningan.
Khusus Liberika Cipasung kopi ini bahkan menjadi salah satu kekhasan yang cukup menonjol. Penelitian Institut Pariwisata Trisakti mencatat bahwa kopi lokal yang tersedia di Cipasung meliputi Arabika, Robusta dan Liberika, dengan Liberika menjadi salah satu fokus pengembangan.
Kopi Liberika Cipasung juga memiliki cerita historis tersendiri. Sejumlah pohon indukan Liberika di kawasan tersebut disebut telah berusia puluhan bahkan lebih dari 80–100 tahun, menjadi jejak panjang keberadaan kopi jenis ini di wilayah Darma.
Tidak mengherankan jika Liberika kemudian tidak hanya dipandang sebagai kopi biasa. Ia menjadi bagian dari upaya merawat warisan tanaman sekaligus mengangkat nama Cipasung melalui produk lokal.
Rumah Produksi Menjadi Titik Penting
Pengembangan kopi juga bergerak ke sektor hilir. Rumah produksi di Cipasung menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan kopi lokal, karena di sinilah kopi tidak berhenti sebagai hasil perkebunan.
Biji kopi dapat melalui proses pascapanen, roasting hingga kemudian disajikan menjadi minuman yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Pendampingan yang dilakukan STP Trisakti turut memperkenalkan penggunaan mesin pulper, huller, grader, roasting dan espresso kepada kelompok petani dan masyarakat. Pelatihan barista juga diberikan agar masyarakat tidak hanya mampu menghasilkan kopi, tetapi memahami bagaimana kopi tersebut disajikan kepada konsumen. Dari sinilah konsep coffee culture mulai dibangun.
Kopi tidak lagi semata-mata dipandang sebagai hasil kebun. Ia menjadi pengalaman wisata, produk ekonomi kreatif, identitas desa sekaligus pintu masuk bagi wisatawan untuk mengenal Cipasung lebih dekat.
Tiga Nama, Tiga Karakter
Arabika, Robusta dan Liberika akhirnya menjadi tiga warna yang memperkaya cerita kopi Cipasung. Arabika dikenal dengan karakter cita rasa yang lebih kompleks dan aroma yang kuat. Robusta memiliki karakter rasa yang cenderung lebih kuat dan body yang lebih tebal. Sementara Liberika memiliki karakter yang berbeda dan khas, sehingga memiliki ruang tersendiri bagi para penikmat kopi.
Kopi Liberika Cipasung bahkan disebut memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai produk premium karena karakter khasnya. Upaya pengembangannya dilakukan mulai dari perkebunan hingga proses pascapanen dan pengolahan.
Data penelitian Institut Pariwisata Trisakti juga mencatat keberadaan Kopi Liberika Cipasung sebagai salah satu jenis kopi khas Kabupaten Kuningan. Kopi Liberika Cipasung disebut berasal dari Desa Cipasung dengan ketinggian sekitar 734 meter di atas permukaan laut.
Artinya, Cipasung tidak hanya punya cerita tentang desa wisata. Desa ini juga memiliki cerita tentang bagaimana kopi lokal berusaha naik kelas.
Dari Kebun Menuju Identitas Kuningan
Perjalanan kopi Cipasung memperlihatkan satu hal penting: membangun kopi lokal bukan hanya soal menanam dan memanen.
Ada pekerjaan panjang setelah buah kopi dipetik—bagaimana menjaga kualitas, mengolah, menyangrai, menyeduh, memperkenalkan karakter rasa dan membuat konsumen mengenal asal-usul kopi tersebut.
Kabupaten Kuningan sendiri memiliki sejumlah kawasan penghasil kopi dengan jenis Arabika, Robusta dan Liberika. Data produksi yang dihimpun pada 2024 mencatat produksi Robusta mencapai 472,06 ton, Arabika 26,22 ton, dan Liberika 1,5 ton
Di tengah potensi tersebut, Cipasung memiliki posisi menarik karena mencoba menggabungkan kopi, pertanian, pemberdayaan masyarakat dan pariwisata.
Dari sebuah tanaman yang akarnya berasal dari Afrika, kopi kemudian menemukan rumahnya di tanah Kuningan. Di tangan petani dan pelaku kopi Cipasung, biji-biji itu tidak hanya diseduh menjadi secangkir minuman.
Ia sedang diracik menjadi identitas.
Dan dari rumah produksi di Cipasung, cerita itu terus bergerak: dari kebun, masuk ke mesin roasting, kemudian ke cangkir—sebelum akhirnya sampai ke meja penikmat kopi.
Sebab pada akhirnya, kekuatan kopi bukan hanya terletak pada pahit atau manisnya rasa. Tetapi pada **cerita tentang siapa yang menanam, dari mana ia berasal, bagaimana ia diolah, dan bagaimana sebuah daerah memperkenalkan dirinya melalui secangkir kopi.





Tidak ada komentar: