Tak Ada Kata Terlambat untuk Belajar, dari Kemah Kesetaraan Bupati Dian Menyemai Generasi Masa Depan Kuningan
Penulis Mulyono
KUNINGAN – LINTAS
Pagi di Lapang Sepak Bola Desa Mandalajaya, Kecamatan Maleber, Jumat (4/9/2026), terasa berbeda. Deretan tenda, seragam Pramuka, aktivitas peserta, hingga semangat kebersamaan menjadi pemandangan yang menyatu dalam pembukaan Kemah Bakti Pramuka Pendidikan Kesetaraan Ke-V Tingkat Kabupaten Kuningan Tahun 2026
Di tengah suasana kemah itu, terselip pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar kegiatan Pramuka: belajar tidak mengenal kata terlambat.
Pesan itu disampaikan Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. saat membuka kegiatan yang diselenggarakan DPD Forum Komunikasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (FK PKBM) Kabupaten Kuningan tersebut.
Peserta yang datang dari berbagai PKBM di Kabupaten Kuningan bukan sekadar mengikuti agenda perkemahan. Mereka sedang menjalani sebuah proses belajar yang berlangsung jauh dari batas-batas ruang kelas.
Bagi Bupati Dian, kemah bakti menjadi ruang untuk menanamkan karakter, membangun kepedulian, belajar bekerja sama, sekaligus menumbuhkan keberanian untuk bermimpi.
“Ini bukan hanya sekadar berkemah, bukan hanya sekadar bermalam bersama teman-teman. Ini merupakan proses pendidikan pembentukan karakter, memperkuat arti kebersamaan, saling menolong, kepedulian sosial, sekaligus mengembangkan kreativitas dan inovasi,” ujar Bupati Dian.
Sekolah Kehidupan Tak Selalu Bernama Ruang Kelas
Bupati Dian yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Pembimbing Cabang (Mabicab) Gerakan Pramuka Kabupaten Kuningan menegaskan, pendidikan kesetaraan mempunyai posisi penting dalam membuka kembali pintu kesempatan bagi masyarakat yang sebelumnya menghadapi berbagai hambatan dalam memperoleh pendidikan.
Melalui Paket A, Paket B dan Paket C, masyarakat tetap memiliki kesempatan untuk belajar, meningkatkan kapasitas diri, dan menata masa depan.
Karena itu, ia menyampaikan sebuah kalimat sederhana yang menjadi pesan utama dalam kegiatan tersebut.
“Tidak ada kata terlambat untuk belajar,” tegasnya.
Menurut Dian, belajar tidak berhenti ketika seseorang keluar dari ruang kelas. Kehidupan sosial, lingkungan, kegiatan kemasyarakatan, alam terbuka, bahkan pengalaman menghadapi persoalan bersama merupakan bagian dari pendidikan.
Di sanalah nilai sebuah Kemah Bakti Pendidikan Kesetaraan menemukan relevansinya.
Kegiatan tersebut memadukan pendidikan, kepramukaan, kegiatan sosial, kepemimpinan, kebudayaan hingga kesehatan.
“Ini luar biasa. Ini memadukan tentang pendidikan, kepramukaan, kegiatan sosial, kepemimpinan, kebudayaan dan kesehatan. Ini jarang ditemukan dalam pendidikan yang bersifat formal, apalagi hanya di dalam kelas,” katanya.
Belajar Peduli dari Sampah hingga Tanaman
Kemah bakti juga tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Sejumlah kegiatan sosial menjadi bagian penting dari rangkaian acara, mulai dari bakti sosial, penanaman bibit tanaman hingga pemungutan sampah.
Bagi Bupati Dian, kegiatan semacam itu merupakan cara sederhana untuk mengajarkan sesuatu yang sering kali sulit disampaikan hanya melalui teori: **empati.**
“Yang susah kita berikan bantuan, yang lemah kita berikan dorongan. Ini pembelajaran yang luar biasa,” ujarnya.
Ia pun menitipkan pesan khusus kepada peserta agar semangat menjaga lingkungan tidak hanya berlangsung selama kegiatan.
“Tadinya bersih, setelah selesai kemah juga harus bersih,” pesannya.
Persoalan sampah, kata Dian, tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah. Penanganannya harus dimulai dari kesadaran masyarakat, bahkan dari rumah masing-masing.
“Sampah adalah tanggung jawab kita bersama, dimulai dari hulu ke hilir, dimulai dari sampah rumah tangga,” katanya.
Dari PBB hingga Pioneering, Menempa Kemandirian
Selama mengikuti kemah, peserta akan berhadapan dengan berbagai aktivitas yang menuntut kedisiplinan, ketangkasan dan kerja sama.
Mulai dari Peraturan Baris-Berbaris (PBB), pioneering, Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K), pengetahuan kepramukaan hingga berbagai permainan.
Bagi Dian, kegiatan itu bukan sekadar perlombaan atau permainan untuk mengisi waktu. Ada nilai kemandirian dan tanggung jawab yang sedang ditanamkan.
Karena itu, ia mengingatkan peserta untuk tidak takut mencoba dan tidak takut memiliki cita-cita.
“Jangan takut untuk mencoba, jangan takut untuk bermimpi, jangan takut untuk mempunyai cita-cita,” pesan Bupati Dian.
Ia bahkan melihat kemungkinan bahwa orang-orang yang berdiri di hadapannya hari itu suatu saat akan menjadi bagian dari pembangunan Kabupaten Kuningan.
“Tidak menutup kemungkinan di hadapan saya kalian adalah penerus cita-cita masa depan Kabupaten Kuningan,” ungkapnya.
Kalimat itu sekaligus menjadi pengingat bahwa pendidikan kesetaraan bukan pendidikan kelas dua. Dari ruang-ruang PKBM, selalu terbuka kemungkinan lahirnya generasi yang kelak mengisi berbagai profesi dan bidang pengabdian.
Ketika Tradisi Bertemu Generasi Digital
Ada pula sisi lain yang mendapat perhatian Bupati Dian: karnaval budaya dan permainan tradisional.
Di tengah kehidupan generasi muda yang semakin lekat dengan gadget dan teknologi, permainan tradisional dinilai tetap memiliki tempat penting. Bukan semata karena bernostalgia, tetapi karena di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, sportivitas, kreativitas dan filosofi kehidupan.
“Mudah-mudahan dengan kegiatan seperti ini permainan-permainan tradisional kembali diingatkan untuk dilestarikan, karena mengandung makna dan filosofi yang luar biasa,” tuturnya.
Kemah pun akhirnya menjadi semacam ruang perjumpaan antara masa lalu, masa kini dan masa depan
Tradisi tetap dijaga, teknologi tidak ditinggalkan, sementara pendidikan karakter menjadi jembatan di antara keduanya.
Membangun Kuningan Tak Bisa Sendirian
Menjelang akhir sambutannya, Bupati Dian mengajak seluruh pengelola PKBM, tutor, pembina, pendamping serta pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi.
Menurutnya, pembangunan Kabupaten Kuningan bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan pemerintah seorang diri.
“Saya sebagai Bupati tidak bisa berjalan sendiri, tidak bisa membangun sendiri tanpa dukungan dari seluruh masyarakat, elemen masyarakat,” katanya.
Pesannya kepada peserta pun sederhana, tetapi sarat makna.
“Jaga kekompakan, jaga kesehatan, yang terpenting juga jaga kebersihan. Tunjukkan bahwa kalian adalah generasi harapan bangsa, generasi penerus yang hebat,” pesannya.
Kemah Bakti Pramuka Pendidikan Kesetaraan Kabupaten Kuningan Ke-V Tahun 2026 kemudian resmi dibuka oleh Bupati Kuningan. Pembukaan ditandai dengan **penancapan kapak dan pelepasan burung merpati**.
Dari Mandalajaya, sebuah pesan pun kembali ditegaskan: pendidikan bukan soal kapan seseorang memulainya, melainkan tentang keberanian untuk terus melangkah.
Sebab, selama masih ada kemauan untuk belajar, **selalu ada jalan menuju masa depan.**




Tidak ada komentar: