Results for Berita Kuningan

Api Lahap Rumah Makan Ali Action di Tamkot Kuningan, Warga Berkerumun, Petugas Bergerak Cepat

Penulis Mulyono 



KUNINGAN –  LINTAS NASIONAL 

Kepulan asap dan kobaran api mendadak menyita perhatian warga di kawasan Taman Kota (Tamkot) Kuningan, Rabu (16/9/2026). Api melalap Rumah Makan Ali Action hingga membuat suasana di sekitar lokasi sontak berubah menjadi kepanikan.

Warga yang mengetahui kejadian tersebut berbondong-bondong mendekati lokasi untuk melihat proses penanganan. Namun, petugas mengingatkan masyarakat agar tidak terlalu dekat dengan area kebakaran demi keselamatan dan untuk memberi ruang bagi proses pemadaman.

Tak lama setelah menerima laporan, petugas pemadam kebakaran bergerak menuju lokasi. Kobaran api segera menjadi fokus utama penanganan, mengingat posisi rumah makan berada di kawasan yang menjadi ruang aktivitas masyarakat.

Petugas berupaya menjinakkan api sekaligus mengantisipasi kemungkinan kobaran merembet ke bagian bangunan maupun area di sekitarnya.

Di tengah situasi tersebut, sejumlah relawan turut turun tangan. Mereka membantu mengondisikan warga dan lingkungan sekitar agar proses pemadaman dapat berlangsung lebih leluasa.

Penanganan kebakaran juga mendapat perhatian langsung dari unsur pemerintahan dan aparat keamanan. Camat Kuningan, Deni Hamdani, SE., Kp., M.Si, hadir bersama jajaran kepolisian untuk memantau perkembangan situasi di lokasi.

Sementara itu, kepolisian melakukan pengamanan di sekitar Rumah Makan Ali Action. Akses warga diatur agar tidak mengganggu pergerakan petugas pemadam kebakaran sekaligus mencegah masyarakat berada terlalu dekat dengan titik kebakaran.

Situasi di lapangan memperlihatkan keterlibatan sejumlah unsur. Petugas pemadam kebakaran berfokus pada penanganan api, kepolisian menjaga keamanan, pemerintah kecamatan memantau kondisi, sementara relawan membantu mengondisikan lingkungan sekitar.

Hingga berita ini diterbitkan, penyebab kebakaran belum diketahui secara pasti. Pihak berwenang masih melakukan pemeriksaan serta mengumpulkan informasi untuk memastikan kronologi dan penyebab kejadian.

Demikian pula mengenai nilai kerugian. Belum terdapat keterangan resmi yang dapat memastikan besaran kerugian akibat kebakaran tersebut.

Karena itu, masyarakat diimbau tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab maupun nilai kerugian sebelum adanya keterangan resmi dari pihak berwenang.

Kebakaran Rumah Makan Ali Action menjadi perhatian tersendiri karena terjadi di kawasan Tamkot Kuningan. Kini, setelah api ditangani, perhatian beralih pada proses pemeriksaan untuk mengungkap bagaimana kebakaran tersebut terjadi.

Yang pasti, kejadian itu kembali mengingatkan bahwa kawasan dengan aktivitas masyarakat yang cukup padat membutuhkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran serta respons cepat ketika insiden terjadi.

Tabligh Akbar dan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H Karya Bhakti 02 Jadi Momentum Mempererat Ukhuwah Warga

 Penulis Mulyono, Pemred Lintas Nasional 



KUNINGAN – Lintas Nasional

Semangat kebersamaan dan kecintaan kepada Rasulullah SAW terasa begitu kuat di Desa Manis Kidul, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan. Warga dari berbagai kalangan berbondong-bondong menghadiri Tabligh Akbar sekaligus peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah yang diselenggarakan oleh Karya Bhakti 02.

Bukan sekadar menghadiri sebuah agenda keagamaan, masyarakat menjadikan momentum tersebut sebagai ruang untuk berkumpul, mempererat silaturahmi, sekaligus kembali menghidupkan nilai-nilai keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Suasana penuh antusiasme terlihat sejak kegiatan dimulai. Kehadiran warga yang memadati lokasi acara menunjukkan bahwa semangat memperingati kelahiran Rasulullah SAW masih tumbuh kuat di tengah kehidupan masyarakat Desa Manis Kidul.

Di tengah kesibukan kehidupan sehari-hari, Tabligh Akbar ini menjadi kesempatan bagi warga untuk sejenak mendekatkan diri kepada nilai-nilai agama. Pesan-pesan keagamaan yang disampaikan diharapkan tidak berhenti sebagai nasihat di tempat acara, tetapi mampu menjadi inspirasi dalam membangun kehidupan sosial yang lebih rukun, kompak, dan penuh keberkahan.


Maulid Nabi, Merawat Persaudaraan Warga

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H yang digelar Karya Bhakti 02 membawa pesan lebih luas daripada sekadar mengenang hari kelahiran Rasulullah SAW.

Momentum ini menjadi pengingat tentang perjuangan, akhlak mulia, dan keteladanan Nabi Muhammad SAW yang patut diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Semangat tersebut terasa melalui kebersamaan warga yang hadir. Silaturahmi, persaudaraan, dan kepedulian sosial menjadi nilai penting yang diharapkan terus tumbuh setelah kegiatan berakhir.

Bagi masyarakat Manis Kidul, kegiatan keagamaan seperti ini memiliki arti penting dalam menjaga kekompakan. Sebab, kehidupan masyarakat yang religius tidak hanya dibangun melalui ibadah, tetapi juga melalui hubungan baik antarsesama, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Karya Bhakti 02 berharap kegiatan Tabligh Akbar dan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H dapat terus memberikan kontribusi positif bagi kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat Desa Manis Kidul.

“Dengan semangat Maulid Nabi, mari kita teladani akhlak Rasulullah SAW dan bersama-sama membangun masyarakat yang semakin rukun, kompak, dan penuh keberkahan.”


Pemerintah Desa Apresiasi Antusiasme Masyarakat

Di pihak lain, Pemerintah Desa Manis Kidul, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Tabligh Akbar sekaligus peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah.

Kegiatan yang berlangsung penuh khidmat dan diikuti antusias oleh masyarakat tersebut dinilai memiliki nilai positif dalam memperkuat silaturahmi, meningkatkan keimanan dan ketakwaan, serta membangun kebersamaan warga.

Perangkat Desa Manis Kidul, Juhana, mengatakan bahwa pemerintah desa sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan keagamaan yang diselenggarakan Karya Bhakti 02 tersebut.

Menurutnya, kegiatan seperti Tabligh Akbar dan Maulid Nabi bukan hanya menjadi agenda peringatan keagamaan, tetapi juga memiliki peran dalam membangun kebersamaan di tengah masyarakat.

“Kami dari Pemerintah Desa Manis Kidul sangat mengapresiasi dan mendukung terselenggaranya Tabligh Akbar sekaligus peringatan Maulid Nabi 1448 H ini. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan dan memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW,” ujar Juhana.


Kepala Desa: Jangan Berhenti pada Seremonial

Apresiasi serupa disampaikan Kepala Desa Manis Kidul. Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, serta seluruh warga yang telah berpartisipasi dan mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

Menurutnya, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak semestinya berhenti pada kegiatan seremonial. Lebih dari itu, momentum tersebut harus menjadi sarana untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi sehingga kegiatan Tabligh Akbar dan Maulid Nabi 1448 H ini dapat terlaksana dengan baik. Semoga momentum ini semakin mempererat persaudaraan dan kebersamaan masyarakat Desa Manis Kidul, serta kita semua dapat meneladani akhlak Rasulullah SAW,” ungkap Kepala Desa Manis Kidul.

Pemerintah Desa Manis Kidul berharap kegiatan keagamaan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang religius, rukun, dan penuh semangat kebersamaan.

Melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, masyarakat diharapkan semakin meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW serta mengamalkan nilai-nilai keteladanan beliau dalam kehidupan bermasyarakat.

Sebab, semangat Maulid Nabi bukan hanya tentang bagaimana sebuah peringatan dilaksanakan, melainkan bagaimana kecintaan kepada Rasulullah SAW mampu diterjemahkan menjadi akhlak, persaudaraan, dan kepedulian yang terus hidup di tengah masyarakat Desa Manis Kidul.

Khitanan Massal Sindang Group, Dari Kampung Halaman untuk Masa Depan Anak Negeri

 # Ketika Kepedulian Menjadi Jalan Membangun Kuningan

Penulis: Mulyono


KUNINGAN– LINTAS 

Pagi itu, halaman Kantor Pemerintahan Desa Sindang, Kecamatan Lebakwangi, terasa berbeda. Di tengah suasana peringatan Hari Jadi ke-528 Kabupaten Kuningan, terselip kebahagiaan sekaligus ketegangan kecil yang dirasakan 29 anak peserta khitanan massal.

Ada yang datang bersama orang tua. Ada pula yang mungkin masih menyimpan rasa cemas menghadapi pengalaman pertamanya. Namun, di balik suasana tersebut, tersimpan sebuah pesan besar: bahwa kepedulian terhadap sesama masih menjadi kekuatan penting dalam membangun daerah.

Sabtu, 12 September 2026, Sindang Group kembali menghadirkan kegiatan sosial yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Bukan pembangunan gedung tinggi, bukan pula peresmian jalan baru. Kali ini, perhatian diberikan kepada anak-anak melalui Khitanan Massal Bersama Sindang Group.

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. Kehadirannya bukan sekadar memenuhi agenda pemerintahan, melainkan menjadi kesempatan untuk menyampaikan pandangan bahwa pembangunan Kabupaten Kuningan harus memiliki wajah kemanusiaan.

Di hadapan masyarakat, Bupati Dian menegaskan, pembangunan tidak boleh hanya dipahami sebagai urusan infrastruktur.

“Membangun Kuningan itu tidak hanya berupa jembatan, tidak hanya berupa jalan-jalan yang sedang kita perbaiki, tidak hanya berupa rumah-rumah atau gedung-gedung yang bagus, tetapi adalah kepedulian, rasa empati, silih asah, silih asih, silih asuh. Itu substansi dari kita membangun,” ujar Bupati.


Dari Kesuksesan di Perantauan, Kembali Mengingat Kampung Halaman

Di balik kegiatan sosial ini, terdapat sosok H. Eka, Direktur Sindang Group, yang bersama keluarga kembali menunjukkan kepeduliannya kepada masyarakat.

Bagi Bupati Dian, apa yang dilakukan Sindang Group memiliki arti lebih dari sekadar sebuah kegiatan sosial. Ada ikatan dengan kampung halaman. Ada rasa tanggung jawab moral. Ada keinginan agar keberhasilan yang diraih di perantauan tidak berhenti menjadi kebanggaan pribadi.

Kesuksesan, dalam pandangan tersebut, bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang melangkah meninggalkan kampung halaman. Kesuksesan juga diukur dari seberapa besar manfaat yang dapat dibawa pulang.

“Terima kasih Pak Haji Eka. Di tengah-tengah kelebihan rezeki, masih ingat kepada keluarganya, masih ingat kepada kampung halamannya, masih ingat kepada orang-orang yang kurang beruntung,” ungkap Bupati Dian.

Pesan itu terasa kuat di Desa Sindang. Sebab, kegiatan khitanan massal bukan hanya melibatkan warga setempat, tetapi juga masyarakat dari luar desa.

Sebanyak 29 anak mengikuti kegiatan tersebut. Delapan anak berasal dari Desa Sindang, sementara 21 anak lainnya berasal dari luar Desa Sindang. Mereka mendapatkan layanan khitan sekaligus bingkisan sebagai bentuk perhatian dari penyelenggara.

Angka 29 mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi setiap keluarga yang hadir, angka itu memiliki cerita masing-masing. Ada harapan orang tua. Ada doa yang dipanjatkan. Ada kebahagiaan ketika anak-anak mereka mendapatkan perhatian dan pelayanan dalam suasana kebersamaan.


Bukan Sekadar Sunatan, Melainkan Menanamkan Nilai Kehidupan

Khitanan massal menjadi salah satu bentuk kegiatan sosial yang dekat dengan masyarakat. Di dalamnya terdapat nilai keagamaan, kesehatan, dan kepedulian.

Bupati Dian menyampaikan bahwa khitan merupakan bagian dari syariat Islam sekaligus memiliki manfaat dari sisi kesehatan, terutama sebagai salah satu upaya menjaga kebersihan dan mengantisipasi risiko penyakit.

Namun, makna kegiatan tersebut tidak berhenti pada layanan yang diterima anak-anak hari itu.

Ada harapan agar mereka tumbuh menjadi generasi yang saleh, berbakti kepada orang tua, serta berguna bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

“Kita doakan agar menjadi anak yang saleh, anak yang berguna bagi nusa dan bangsa dan bisa membanggakan keluarga dan masyarakatnya,” tutur Bupati.

Di titik inilah kegiatan sosial menemukan makna yang lebih luas. Khitanan massal bukan hanya tentang sebuah acara yang diselenggarakan dan kemudian selesai. Ia menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi penerus melalui perhatian yang diberikan sejak dini.


Membangun Kuningan Tidak Bisa Sendirian

Bupati Dian juga mengingatkan bahwa pembangunan daerah bukan pekerjaan satu orang. Bupati, camat, kepala desa, pemerintah daerah, maupun lembaga pemerintahan lainnya tidak akan mampu berjalan sendiri tanpa dukungan masyarakat.

“Membangun itu bukan tugas bupati saja, bukan tugas pemerintah daerah saja, bukan tugas Pak Camat, tugas Pak Kepala Desa saja, tapi tugas kita semua,” tegasnya.

Pernyataan itu menjadi penting di tengah berbagai keterbatasan yang dihadapi pemerintah daerah. Bupati mengakui bahwa pembangunan Kabupaten Kuningan membutuhkan dukungan dari banyak pihak.

Dukungan legislatif, perangkat daerah, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga seluruh warga menjadi bagian dari kekuatan yang diharapkan mampu membantu Kuningan terus bangkit dan memperbaiki kondisi daerah.

“Tanpa doa para ulama, tanpa dukungan dari para tokoh masyarakat, tanpa dukungan dari masyarakat, saya akan sulit membangun,” katanya.

Dari sebuah kegiatan khitanan massal, pesan pembangunan itu kembali ditegaskan: bahwa pemerintah membutuhkan masyarakat, dan masyarakat memiliki peran dalam membangun daerahnya.


Desa Sindang Menjaga Tradisi Kepedulian

Kepala Desa Sindang, Nursamsi, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Eka beserta keluarga yang kembali menyelenggarakan khitanan massal untuk tahun kedua.

Bagi pemerintah desa, kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Program sunatan massal ini sangat bermanfaat bagi warga, khususnya warga saya, umumnya warga yang di luar Desa Sindang,” ujar Nursa

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa kegiatan sosial ini tidak dibatasi oleh batas administratif desa. Warga dari luar Desa Sindang pun turut merasakan manfaatnya.

Nursamsi berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan setiap tahun. Ia juga mendoakan agar Eka beserta keluarga senantiasa diberikan kesehatan, umur panjang, keberkahan, serta kelancaran dalam usaha sehingga dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Di sisi lain, harapan besar juga disampaikan untuk anak-anak peserta khitanan massal. Mereka didoakan agar menjalani proses dengan lancar, tumbuh menjadi anak yang saleh, berbakti kepada orang tua, agama, bangsa, dan negara.

Anak-anak tersebut, menurut Nursamsi, merupakan bagian dari generasi penerus yang kelak akan menjadi aset bangsa menuju Indonesia Emas.


Kepedulian yang Menghidupkan Harapan

Pembangunan sering kali dilihat melalui angka, bangunan, jalan, jembatan, dan berbagai capaian fisik. Namun, di Desa Sindang, sebuah kegiatan sederhana kembali mengingatkan bahwa pembangunan juga memiliki wajah lain.


Wajah itu adalah kepedulian.

Ia hadir ketika seseorang yang telah sukses masih mengingat kampung halamannya. Ia tumbuh ketika masyarakat saling membantu. Ia terasa ketika anak-anak mendapatkan perhatian, orang tua merasa terbantu, dan sebuah desa membuka ruang kebersamaan bagi warga dari berbagai tempat.

Khitanan massal Sindang Group menjadi salah satu contoh bahwa manfaat pembangunan tidak selalu hadir dalam bentuk yang megah. Kadang, ia hadir melalui sebuah kegiatan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

Dan dari halaman Kantor Pemerintahan Desa Sindang, pesan itu kembali terdengar: membangun Kuningan bukan hanya soal apa yang didirikan, tetapi juga tentang kepedulian yang diwariskan.

Sebab, daerah yang kuat bukan hanya dibangun oleh infrastruktur yang kokoh, melainkan juga oleh masyarakat yang saling menguatkan.

Dari Sindang, kepedulian menjadi bagian dari pembangunan. Dari anak-anak hari ini, harapan untuk masa depan Kuningan terus ditanamkan.

Turut hadir: Ketua TP PKK Kabupaten Kuningan, anggota DPRD Kabupaten Kuningan dari Fraksi PKS, Camat beserta unsur Forkopimcam Lebakwangi, para mitra Sindang Group, lembaga desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta undangan lainnya.



Mauludan dan Babarit di RT 17/04 Pon Cantilan, Rawat Kebersamaan dan Semangat Gotong Royong

Penulis Mulyono


KUNINGAN — Lintas Nasional 

Suasana kebersamaan dan gotong royong terasa dalam kegiatan Mauludan dan Babarit yang digelar warga RT 17/RW 04, Pon Cantilan. Kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap tahun tersebut menjadi momentum bagi masyarakat untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Di tengah kehidupan masyarakat yang terus berkembang, tradisi Mauludan dan Babarit tetap dipertahankan sebagai bagian dari kebersamaan warga. Semangat yang dibangun pun sederhana, namun memiliki makna kuat: dengan kebersamaan dan gotong royong, berbagai persoalan di tengah masyarakat diharapkan dapat dihadapi bersama.

Ketua RT 17, Susi, menyampaikan rasa syukurnya karena warga selama ini dapat menjaga kebersamaan, kekompakan, serta terus terlibat dalam berbagai kegiatan yang membawa kebaikan bagi lingkungan.

“Alhamdulillah, warga kami selalu menjaga kebersamaan dan kekompakan dalam kebaikan. Berbagai kegiatan dapat terjalin dan berjalan dengan lancar serta sukses,” ungkap Susi.

Rangkaian kegiatan Mauludan dan Babarit tersebut diawali dengan pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Kesra Sutono.

Acara kemudian dilanjutkan dengan Hadoroh yang dipimpin Ustaz Abdul, serta Asrokolan yang dipimpin oleh Ketua RT Susi bersama tim khosidah ibu-ibu Pon Cantilan. Setelah itu, kegiatan diisi dengan tausiah oleh Ustaz Abdul, yang kemudian ditutup dengan doa.

Dalam tausiahnya, Ustaz Abdul mengajak masyarakat untuk menjadikan kehidupan Nabi Muhammad SAW sebagai suri teladan, khususnya dalam membangun akhlak yang baik dan menjaga hubungan sesama umat.

Ia juga menyampaikan pesan mengenai pentingnya sedekah sebagai salah satu bentuk kepedulian dan amal kebaikan.

“Sedekah itu akan menghilangkan bencana dan membawa kebaikan serta kebersihan bagi kita semua. Kelak di akhirat, bumi pun akan menjadi saksi bagi kita yang telah membantu atau bersedekah,” papar Ustaz Abdul dalam tausiahnya.

Menurutnya, sekecil apa pun sedekah yang diberikan dengan keikhlasan tetap memiliki nilai dan akan diperhitungkan oleh Allah SWT. Karena itu, masyarakat diajak untuk terus istiqamah dalam menjalankan kegiatan keagamaan sekaligus menjaga akhlak yang baik terhadap sesama.

“Sekecil apa pun sedekah kita akan diperhitungkan oleh Allah SWT. Mari kita tetap istiqamah melaksanakan Mauludan dan Babarit serta menjaga akhlak yang baik sesama umat,” tuturnya.

Lebih dari sekadar kegiatan keagamaan, Mauludan dan Babarit di Pon Cantilan juga menjadi ruang untuk memperkuat gotong royong dan kekompakan masyarakat. Nilai tersebut diharapkan tidak hanya dirasakan oleh warga saat ini, tetapi juga diwariskan kepada generasi berikutnya.

Masyarakat RT 17/RW 04 Pon Cantilan pun diharapkan terus menjaga tradisi kebersamaan tersebut agar anak cucu mereka kelak tetap mengenal pentingnya hidup rukun, saling membantu, dan bergotong royong.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Desa Manis Kidul berhalangan hadir karena memiliki keperluan lain. Kehadirannya diwakili oleh perangkat desa, yakni Kaur Keuangan Bapak Bakja, Bapak Toto, serta Kepala Dusun Pon Cantilan.

Kegiatan Mauludan dan Babarit akhirnya berlangsung dengan lancar dan penuh kebersamaan. Bagi warga, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda tahunan, melainkan menjadi pengingat bahwa menjaga persaudaraan, berbagi dengan sesama, dan bergotong royong merupakan nilai yang perlu terus dirawat dari generasi ke generasi.

Selamat Ulang Tahun ke-52, Yanto Crisdianto Owner Teras Mahar Resto: Usia Bertambah, Doa dan Harapan Makin Menguat



KUNINGAN – LIINTAS NASIONAL 

 Angka 52 bukan sekadar penanda bertambahnya usia. Di baliknya ada perjalanan, kerja keras, doa, dan harapan yang terus tumbuh. Hari istimewa itu kini menjadi milik Yanto Crisdianto, Owner Teras Mahar Resto, yang genap berusia 52 tahun.

Bukan pesta semata yang menjadi warna di hari bahagianya. Ucapan selamat dan doa terbaik justru mengalir dari keluarga besar, karyawan, hingga Media Fokus Utama Online, yang turut memberikan apresiasi dan doa untuk sosok yang berada di balik perjalanan Teras Mahar Resto.

Di usia yang semakin matang, harapan besar disematkan kepada Yanto Crisdianto. Semoga selalu diberikan kesehatan, umur panjang, rezeki yang berkah, kebahagiaan, serta kesuksesan dalam menjalankan usaha dan memimpin Teras Mahar Resto.

Perjalanan membangun sebuah usaha tentu bukan perkara mudah. Ada proses panjang, tantangan, keputusan, dan kerja keras yang harus dilalui. Namun, Teras Mahar Resto kini telah dikenal masyarakat Kuningan sebagai salah satu tempat kuliner dan nongkrong favorit.

Konsep yang nyaman serta menu yang khas menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Tempat ini pun terus berkembang dan menjadi salah satu bagian dari denyut kehidupan kuliner di Kabupaten Kuningan.

Di balik perkembangan tersebut, ada sosok Yanto Crisdianto yang terus mendorong agar Teras Mahar Resto semakin maju.

Bagi orang-orang yang bekerja bersamanya, keberhasilan sebuah usaha bukan hanya tentang angka dan keuntungan. Ada kepemimpinan, kebersamaan, serta kemampuan untuk terus memberikan semangat kepada orang-orang di dalamnya.

Karena itu, momentum ulang tahun ke-52 ini menjadi kesempatan untuk menyampaikan sebuah harapan sederhana namun penuh makna.

“Selamat ulang tahun ke-52 Pak Yanto. Semoga terus menginspirasi, menjadi pemimpin yang bijaksana, dan membawa Teras Mahar Resto semakin maju,” ujar salah satu karyawan.

Kalimat tersebut menjadi bagian dari doa yang mengiringi langkah Yanto Crisdianto memasuki usia barunya.

Usia boleh bertambah, tetapi semangat untuk berkarya diharapkan tidak pernah berhenti. Justru di usia 52 tahun, pengalaman dan kematangan menjadi modal untuk membawa langkah berikutnya lebih jauh.

Keluarga besar Media Fokus Utama Online pun menyampaikan ucapan yang sama.

Selamat ulang tahun ke-52, Bapak Yanto Crisdianto.

Semoga kesehatan selalu menyertai, umur dipanjangkan dalam keberkahan, rezeki semakin luas, segala urusan dimudahkan, dan setiap cita-cita yang diperjuangkan mendapatkan jalan terbaik.

Semoga di usia yang baru ini lahir semakin banyak keberhasilan, kebahagiaan, dan kebaikan.

Selamat ulang tahun, Pak Yanto!

Semoga Teras Mahar Resto semakin maju, semakin sukses, dan terus menjadi kebanggaan masyarakat Kuningan.


(Redaksi)

Menapak Jejak Sejarah, Kuningan Bersiap Menghidupkan Masa Lalu di Jalanan

 Penulis Mulyono, Pemred Lintas Nasional 



“Tumapak Ka Jaman Baheula: Napak Tilas Kuningan” bukan sekadar tema. Ia akan menjadi perjalanan sejarah Kuningan yang dipentaskan di jalanan.

KUNINGAN —  Lintas Nasional 

Sejarah biasanya tersimpan dalam buku, prasasti, cerita para leluhur, dan ingatan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun di Kuningan, sejarah itu akan dibawa turun ke jalan.

Dalam rangkaian Hari Jadi ke-528 Kuningan Tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Kuningan tengah mematangkan sebuah perhelatan yang tidak sekadar menawarkan kemeriahan, tetapi juga mengajak masyarakat menengok kembali perjalanan panjang daerahnya.

Namanya Karnaval Budaya, dengan tema “Tumapak Ka Jaman Baheula: Napak Tilas Kuningan”, yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 13 September 2026.

Karnaval tersebut dirancang sebagai parade teatrikal jalanan. Enam fase perjalanan sejarah Kuningan akan dihidupkan melalui kreativitas kelompok-kelompok kecamatan, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi sekaligus diajak mengenal kembali akar sejarah dan kebudayaan daerahnya.

Sekda Kabupaten Kuningan U. Kusmana, S.Sos., M.Si., selaku Ketua Panitia Hari Jadi ke-528 Kuningan, menegaskan bahwa Karnaval Budaya bukan sekadar parade seni.

Hal itu disampaikannya dalam rapat koordinasi persiapan Karnaval Budaya yang digelar di Ruang Rapat Inspektorat, Gedung Pemkab Kuningan-KIC Lantai 3, Senin (7/9/2026).

Rapat tersebut dihadiri unsur pemerintah daerah, perwakilan Polres Kuningan, Kodim 0615 Kuningan, panitia, Dewan Kebudayaan Kuningan, serta para juri.

“Karnaval ini bukan hanya parade, tetapi bagaimana sejarah dan budaya Kuningan bisa disampaikan kepada masyarakat melalui pertunjukan yang menarik,” ujar U. Kusmana.

Enam Fase, Enam Potongan Perjalanan Kuningan

Konsep karnaval akan membawa masyarakat menyusuri enam fase sejarah. Mulai dari masa paling awal ketika manusia mengenal kehidupan prasejarah, perjalanan masa Hindu, masuknya Islam, masa kolonial, perjuangan kemerdekaan, hingga kemerdekaan dan pembangunan.

Setiap fase akan diperankan oleh kelompok kecamatan yang telah ditentukan.

Fase prasejarah melibatkan Kecamatan Cigugur, Kuningan, Kadugede, Nusaherang, dan Kramatmulya.

Kemudian fase Hindu akan melibatkan Kecamatan Ciawi, Cipicung, Kalimanggis, dan Cidahu.

Memasuki fase masuknya Islam, tampil Kecamatan Luragung, Garawangi, Lebakwangi, Maleber, Ciniru, Hantara, dan Sindangagung.

Sementara fase kolonial akan dibawakan Kecamatan Cibingbin, Ciwaru, Cibeureum, Karangkancana, dan Cimahi.

Berikutnya, kisah tentang perjuangan kemerdekaan akan melibatkan Kecamatan Cilimus, Jalaksana, Japara, Cigandamekar, Pancalang, Pasawahan, dan Mandirancan.

Adapun perjalanan menuju fase kemerdekaan dan pembangunan akan melibatkan Kecamatan Darma, Subang, Cilebak, dan Selajambe.

Pembagian tersebut membuat Karnaval Budaya bukan hanya menjadi parade kostum dan pertunjukan, tetapi sebuah rangkaian cerita besar. Enam fase itu akan menjadi potongan-potongan perjalanan yang jika disatukan menggambarkan perjalanan panjang Kuningan.

Ketika Sejarah Menjadi Pertunjukan

Di sinilah kekuatan utama karnaval tersebut.

Sejarah tidak disampaikan dalam bentuk ceramah panjang. Ia diterjemahkan melalui parade, teatrikal, seni tradisi, kostum, musik, dan kreativitas kelompok peserta.

Konsep ini diharapkan menjadi media edukasi sejarah, terutama bagi generasi muda yang semakin dekat dengan dunia visual dan pertunjukan.

Pada saat bersamaan, Karnaval Budaya diarahkan untuk merevitalisasi seni tradisi, memperkuat identitas daerah, serta mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Dengan demikian, jalanan pada 13 September mendatang bukan hanya menjadi ruang hiburan. Ia akan berubah menjadi panggung sejarah terbuka.

Selain rombongan kecamatan, kemeriahan Karnaval Budaya juga akan diperkuat oleh Drumband Satpol PP, Paskibra, TNI/Polri, cosplay, drumband SMP, Universitas Kuningan, BUMD, serta Kunci Bersama.

Beragam unsur tersebut akan memberikan warna berbeda pada parade, dari nuansa sejarah dan tradisi hingga pertunjukan modern.

Bukan Sekadar Ramai, Ada Aturan yang Harus Dipatuhi

Di balik kemeriahan, panitia juga tengah mematangkan berbagai aspek teknis.

Peserta dijadwalkan mulai berkumpul pada pukul 07.30 WIB.

Peserta dari kecamatan maupun kelompok umum tidak diperkenankan membawa kendaraan. Waktu atraksi pun dibatasi maksimal tiga menit.

Untuk kebutuhan suara selama perjalanan, peserta akan menggunakan sound system gotrok.

Aturan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kelancaran arus karnaval sekaligus memastikan setiap kelompok memiliki kesempatan menampilkan kreativitasnya tanpa mengganggu rangkaian parade.

Sementara itu, titik start peserta masih dalam tahap pematangan.

Dalam pembahasan terakhir, titik start yang semula direncanakan dari Bundaran Cijoho bergeser ke depan BJB menuju kawasan jalan baru.

Sedangkan panggung VVIP direncanakan berada di bawah videotron Taman Kota Kuningan.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa persiapan teknis masih terus bergerak menyesuaikan kondisi lapangan.

Rute, Pengamanan dan Barisan Masih Dimatangkan

U. Kusmana menegaskan, sejumlah aspek teknis masih terus dibahas bersama pihak terkait.

Di antaranya menyangkut rute, pengamanan, serta pengaturan barisan peserta.

Semua itu dinilai penting karena Karnaval Budaya akan melibatkan banyak kelompok dari berbagai kecamatan dan unsur masyarakat.

Untuk memastikan seluruh persiapan semakin matang, rapat lanjutan dijadwalkan digelar Kamis mendatang.

Harapannya, seluruh persoalan teknis dapat diselesaikan sebelum hari pelaksanaan, sehingga ketika ribuan peserta dan masyarakat berkumpul, parade dapat berjalan tertib sekaligus memberikan pengalaman yang berkesan.

Dari Masa Lalu untuk Masa Depan

Pada akhirnya, Karnaval Budaya Hari Jadi ke-528 Kuningan bukan hanya tentang siapa yang memiliki kostum paling menarik atau kelompok mana yang tampil paling meriah.

Lebih jauh dari itu, ada sebuah pesan yang hendak disampaikan: sebuah daerah tidak akan kehilangan arah jika generasinya mengenal sejarahnya sendiri.

Tema “Tumapak Ka Jaman Baheula: Napak Tilas Kuningan” menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.

Kisah prasejarah, Hindu, masuknya Islam, kolonial, perjuangan kemerdekaan, hingga kemerdekaan dan pembangunan akan dirangkai menjadi sebuah pertunjukan yang dapat dinikmati masyarakat dari pinggir jalan.

Kuningan akan menapak ke zaman baheula—menengok jejak yang pernah dilalui para pendahulu—lalu membawanya kembali ke masa kini dalam bentuk kreativitas.

Sebab menjaga budaya bukan hanya soal menyimpan peninggalan masa lalu.

Menjaga budaya adalah membuat sejarah tetap hidup, dikenal, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dan pada Minggu, 13 September 2026, jalanan Kuningan dipersiapkan menjadi panggung untuk cerita itu.

Ketika Ribuan Warga Tumpah ke Jalan, Tradisi Leluhur Kembali Menghidupkan Kuningan

 

Penulis Mulyono


Seba Sapton dan Babarit bukan sekadar helaran. Ia adalah cara Kuningan mengingat dari mana dirinya berasal.

KUNINGAN –  LINTAS

Jalan Siliwangi, Sabtu (5/9/2026), mendadak berubah menjadi panggung raksasa.

Bukan panggung dengan lampu gemerlap dan musik modern. Kali ini yang mengambil alih perhatian adalah barisan prajurit, pusaka, panah, tombak, kujang, angklung, tari tradisional, tumpeng, serta wajah-wajah warga yang sejak siang berjubel di sepanjang jalur helaran.

Ribuan masyarakat tumpah ruah.

Mereka datang bukan sekadar untuk melihat sebuah pertunjukan. Banyak yang datang untuk menyaksikan sesuatu yang bagi masyarakat Kuningan memiliki makna jauh lebih dalam: tradisi leluhur yang masih bertahan di tengah zaman yang terus berubah.

Seba Sapton dan Babarit kembali digelar dalam rangkaian Hari Jadi ke-528 Kuningan dengan mengusung tema “Ajeg Purbawisesa”.

Di tengah hiruk-pikuk perayaan hari jadi, tradisi itu seperti membuka kembali lembaran masa lalu. Kuningan seolah sedang berbicara kepada warganya sendiri—bahwa modernitas boleh bergerak cepat, tetapi akar budaya tidak boleh tercerabut.

Dari kawasan Taman Kota, peserta Seba Sapton berkumpul. Alunan Tatalu dari Tim Seni Seba Bhakti Raharja kemudian menggema dari Pendopo Kabupaten Kuningan.

Lima Kademangan bersiap.

Pukul 13.30 WIB, prosesi Kirab Keprajuritan “Nganjang Ka Pendopo Raja” dimulai.

Para camat tampil sebagai Demang bersama kontingen dari wilayah masing-masing. Mereka berjalan membawa identitas budaya dan simbol keprajuritan yang menjadi bagian dari prosesi Seba.

Suasana semakin hidup ketika rombongan tiba di depan Pendopo.

Di sana, Pangbage Kanjeng Raja atau Bupati Kuningan, Kanjeng Patih atau Wakil Bupati Kuningan, serta para Gedeng menyambut kedatangan mereka.

Bukan sekadar seremoni.

Ada pusaka yang diserahkan. Ada kujang yang menjadi simbol. Ada busur panah yang dilepaskan sebagai penanda dimulainya rangkaian acara.

Kemudian, doa dibacakan.

Tari kolosal Gelar Budaya Seba Sapton “Ajeg Purbawisesa” tampil menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.

Lima Kademangan, Lima Warna Tradisi

Satu demi satu hasil Seba diserahkan.

Lima Kademangan tampil membawa karakter masing-masing.

Kademangan Jaya Giri, yang meliputi Sindangagung, Kuningan, Cigugur, Kadugede, Nusaherang, dan Kramatmulya, menghadirkan keprajuritan panah dan kesenian Angklung Buncis.

Kademangan Mandala Jaya, meliputi Ciawigebang, Kalimanggis, Garawangi, Maleber, Lebakwangi, dan Cipicung, membawa keprajuritan pedang-tameng serta Reog Pencak.

Kademangan Bratasana Jaya, yang meliputi Jalaksana, Cigandamekar, Cilimus, Pancalang, Japara, Mandirancan, dan Pasawahan, tampil dengan tombak-tameng serta Seni Tari Tombak Wayang.

Kademangan Raksakancana Jaya, meliputi Cidahu, Cibingbin, Cibeureum, Cimahi, Karangkancana, Ciwaru, dan Luragung, menghadirkan keprajuritan gada serta Tari Angkol.

Sementara Kademangan Suradipati Jaya, yang meliputi Darma, Cilebak, Subang, Selajambe, Hantara, dan Ciniru, membawa Kujang Satia Pusaka Wibawa Nagara serta Tari Rudat.

Di balik simbol-simbol itu tersimpan pesan sederhana: keberagaman wilayah tidak harus membuat masyarakat berjalan sendiri-sendiri.

Justru dari perbedaan itulah kebersamaan dibangun.

Setelah Seba diserahkan, amanat disampaikan. Kemudian berlangsung prosesi Nawur Asih, berupa pembagian hasil Seba, tumpeng, dan gunungan sayur kepada masyarakat.

Di titik inilah batas antara penonton dan pelaku tradisi seolah menghilang.

Masyarakat bukan lagi sekadar menyaksikan.

Mereka ikut menerima.

Ikut menikmati.

Ikut merasakan.

Ketika Babarit Mengubah Suasana

Menjelang sore, setelah waktu istirahat dan salat Ashar, suasana kembali berubah.

Prosesi Babarit dimulai.

Rajah dan Kidung Pembuka mengawali rangkaian. Kemudian disusul tari sakral sebagai simbol Babarit, Tayub Menak, Tepak Soder, Tari Kangsreng, hingga Tari Masal.

Seni tradisi bukan lagi sesuatu yang hanya tersimpan dalam buku sejarah.

Ia hadir di depan mata.

Bergerak.

Bernyawa.

Dan ditonton ribuan pasang mata.

Puncaknya adalah Murak Tumpeng.

Tumpeng tidak lagi berdiri sebagai simbol di tengah acara. Ia dibagikan dan dinikmati bersama.

Masyarakat berkumpul, menyantap hidangan, membawa sayuran hasil Seba untuk keluarga di rumah.

Ada sesuatu yang sederhana tetapi kuat dari adegan itu.

Makan bersama menjadi bahasa yang tidak membutuhkan penerjemah.

Tidak ada jarak antara pejabat dan warga ketika semua duduk dalam suasana kebersamaan. Tradisi berubah menjadi ruang perjumpaan.

Rangkaian kemudian ditutup dengan tari bersama yang melibatkan jajaran pejabat, tamu undangan, dan masyarakat.

Merawat Tradisi, Merawat Masa Depan

Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., menilai Seba Sapton dan Babarit merupakan bagian penting dari upaya mempertahankan warisan leluhur.

Apalagi tahun sebelumnya tradisi tersebut tidak digelar karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan.

Tahun ini, Sapton bahkan hadir dengan wajah berbeda.

Jika sebelumnya dilaksanakan di Lapang Cijoho dan lebih banyak dinikmati para peserta, kini prosesi dipindahkan ke Jalan Siliwangi agar dapat disaksikan masyarakat lebih luas.

Hasilnya terlihat jelas.

Jalanan penuh.

Warga berdiri berdesakan.

Anak-anak ikut menyaksikan.

Orang tua membawa keluarga.

Tradisi yang sempat tidak digelar kembali menemukan penontonnya.

Bagi Dian, antusiasme tersebut menjadi tanda bahwa tradisi leluhur masih mempunyai tempat di hati masyarakat.

“Tradisi leluhur dari waktu ke waktu terus kita pertahankan. Mudah-mudahan menghormati tradisi dan merawat tradisi ini juga sepertinya merawat masa depan,” ungkapnya.

Kalimat itu terasa tepat untuk menggambarkan suasana hari itu.

Sebab tradisi memang bukan hanya tentang masa lalu.

Tradisi adalah tentang bagaimana sebuah masyarakat membawa ingatan masa lalunya menuju masa depan.

Dari Sebuah Tumpeng, Ada Pesan Kebersamaan

Dian juga menyoroti pembagian makanan dan sayuran hasil Seba kepada masyarakat.

Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya sebungkus sayuran atau sepotong tumpeng.

Namun dalam tradisi, pemberian itu memiliki makna yang lebih besar: berbagi rezeki, rasa syukur, dan ngala berkah.

Masyarakat membawa sebagian hasil Seba pulang.

Bukan hanya membawa makanan, tetapi juga membawa cerita.

Cerita tentang hari ketika Kuningan kembali merayakan dirinya.

“Saya senang hari ini masyarakat bisa tersenyum bahagia di Hari Ulang Tahun Kuningan, Hari Ulang Tahun kita bersama,” ujar Dian.

Dan mungkin itulah inti dari sebuah perayaan.

Bukan kemeriahan semata.

Melainkan ketika masyarakat merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Tradisi yang Tak Mau Mati

Di antara ribuan warga yang menyaksikan helaran, Oom (60), warga Desa Sagahariang, Kecamatan Darma, datang bersama cucunya.

Ia bukan penonton baru.

Setiap tahun ia berusaha menyaksikan Seba Sapton dan Babarit.

Namun tahun ini menurutnya terasa berbeda.

Lebih ramai.

Lebih dekat.

Lebih meriah.

“Saya sengaja datang bersama cucu untuk melihat langsung,” tuturnya.

Kalimat sederhana itu sebenarnya menyimpan pesan yang panjang.

Seorang kakek datang membawa cucunya menyaksikan tradisi.

Yang satu membawa ingatan.

Yang satu membawa masa depan.

Di antara keduanya, Seba Sapton dan Babarit menjadi jembatan.

Dan selama masih ada orang tua yang mengajak anak-anaknya datang, selama masih ada masyarakat yang memenuhi jalan untuk menyaksikan, selama tumpeng masih dibagi dan dinikmati bersama, tradisi itu belum mati.

Ia masih hidup.

Ia masih dirawat.

Dan di Hari Jadi ke-528 ini, Kuningan kembali menunjukkan bahwa masa lalu tidak harus ditinggalkan untuk melangkah menuju masa depan.

Sebab sebuah daerah akan kehilangan arah ketika ia lupa pada akar yang membuatnya tumbuh.

Seba Sapton dan Babarit hari itu bukan sekadar helaran.

Ia adalah pengingat bahwa Kuningan masih punya cerita untuk diwariskan.

Haul Desa Kalimati: Ketika Panen Tak Sekadar Soal Hasil Bumi, tetapi Juga Mengingat Leluhur

 


KUNINGAN– Lintas

 Ada cara masyarakat Desa Kalimati, Kecamatan Japara, Kabupaten Kuningan, mengucapkan syukur yang tidak sekadar lewat kata-kata.

Setiap panen kedua, warga kembali menengok jejak para leluhur melalui tradisi adat tahunan **Haul Desa Kalimati dalam rangka Sedekah Bumi 2026**. Tradisi yang digelar pada Minggu lalu itu bukan sekadar agenda seremonial desa, melainkan ruang untuk merawat ingatan, mempererat persaudaraan, sekaligus memastikan warisan budaya tidak terputus oleh pergantian zaman.

Sejak pukul **07.00 WIB hingga sekitar pukul 14.30 WIB**, denyut kegiatan terasa di Desa Kalimati. Pusat pelaksanaan berada di **Area Makom Leluhur Desa Kalimati**, tempat warga berkumpul dan mengikuti seluruh rangkaian acara dengan khidmat dan tertib.

Bagi masyarakat setempat, Haul menjadi momentum untuk mensyukuri hasil bumi sekaligus mengenang tokoh-tokoh leluhur yang dianggap telah berjasa dalam perjalanan kehidupan masyarakat desa.

Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, tradisi ini menjadi semacam pengingat: bahwa sebuah desa bukan hanya tentang jalan, rumah, sawah, dan hasil panen, tetapi juga tentang sejarah dan orang-orang yang pernah meletakkan dasar kehidupan masyarakatnya.


Dari Leluhur, Untuk Generasi Mendatang

Haul Desa Kalimati telah menjadi agenda budaya tahunan yang rutin dilaksanakan Pemerintah Desa Kalimati. Tradisi tersebut sekaligus menjadi ruang perjumpaan berbagai generasi.

Tokoh sesepuh agama **Ustad Udin Bahrudin**, tokoh masyarakat **Ali**, para sesepuh, pemuda, hingga masyarakat umum hadir dalam suasana kebersamaan.

Di sinilah nilai penting Haul terasa. Generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut menyaksikan secara langsung bagaimana sebuah tradisi diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sebab, budaya yang hanya disimpan dalam cerita lama akan perlahan kehilangan jejaknya. Sebaliknya, budaya yang terus dijalankan dan dikenalkan kepada generasi muda akan memiliki kesempatan untuk tetap hidup.


Berjalan Bersama, Menjaga Tradisi

Rangkaian kegiatan dimulai sejak pagi dengan persiapan peserta. Setelah itu, rombongan melintasi sejumlah ruas jalan di wilayah Desa Kalimati sebelum akhirnya kembali ke Area Makom Leluhur.

Perjalanan tersebut menjadi bagian dari rangkaian tradisi yang menghadirkan suasana berbeda di tengah kehidupan masyarakat desa.

Beragam unsur budaya lokal turut ditampilkan. Bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga mencerminkan identitas dan kearifan lokal masyarakat Kalimati.

Warga pun tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan dari awal hingga selesai. Area kegiatan dipadati masyarakat yang datang untuk mengikuti sekaligus menyaksikan prosesi adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Hingga siang menjelang sore, seluruh rangkaian kegiatan berjalan sesuai susunan yang telah dipersiapkan panitia.

Tidak ada hiruk-pikuk yang berlebihan. Yang terasa justru suasana kebersamaan—sebuah tradisi lama yang kembali menemukan ruangnya di tengah kehidupan masyarakat modern.


Sedekah Bumi, Syukur yang Terus Dihidupkan

Sedekah bumi dalam tradisi Haul Desa Kalimati pada akhirnya bukan semata tentang panen.

Ada rasa syukur di dalamnya. Ada penghormatan kepada leluhur. Ada silaturahmi yang dipererat. Dan ada pesan kepada generasi muda bahwa kemajuan tidak harus berarti meninggalkan akar budaya.

Kehadiran Pemerintah Desa Kalimati bersama tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, perangkat desa, dan warga menunjukkan bahwa pelestarian tradisi membutuhkan kebersamaan.

Seluruh kegiatan berlangsung **aman, tertib, dan lancar**. Kondisi tersebut sekaligus memperlihatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga ketertiban selama tradisi berlangsung.


Kuwu Hasan: Jangan Sampai Tradisi Hilang Ditelan Zaman

Kepala Desa (Kuwu) Kalimati **Hasan Bahri** menegaskan bahwa kegiatan adat dan budaya masyarakat merupakan bagian penting yang perlu terus dijaga.

Menurutnya, Haul Sedekah Bumi menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal sekaligus menjaga agar nilai-nilai yang diwariskan para leluhur tetap hidup di tengah masyarakat.

 “Kami, setiap kegiatan adat dan budaya masyarakat agar dapat berjalan dengan aman, tertib, dan penuh khidmat, sehingga nilai-nilai tradisi seperti Haul tersebut terjaga dan lestari,” ujar Kuwu Hasan Bahri.

Pesan itu sederhana, tetapi memiliki makna panjang.

Sebab, ketika sebuah desa masih mampu mengingat leluhurnya, mensyukuri tanah yang memberi kehidupan, dan mengajarkan tradisinya kepada anak-anak muda, sesungguhnya desa tersebut sedang menjaga identitasnya sendiri.

**Haul Desa Kalimati pun bukan hanya cerita tentang masa lalu. Ia adalah cara masyarakat hari ini menjaga agar masa lalu tetap memiliki tempat di masa depan.**

**Mulyono**

Tak Ada Kata Terlambat untuk Belajar, dari Kemah Kesetaraan Bupati Dian Menyemai Generasi Masa Depan Kuningan

Penulis Mulyono 


KUNINGAN –  LINTAS 

Pagi di Lapang Sepak Bola Desa Mandalajaya, Kecamatan Maleber, Jumat (4/9/2026), terasa berbeda. Deretan tenda, seragam Pramuka, aktivitas peserta, hingga semangat kebersamaan menjadi pemandangan yang menyatu dalam pembukaan Kemah Bakti Pramuka Pendidikan Kesetaraan Ke-V Tingkat Kabupaten Kuningan Tahun 2026

Di tengah suasana kemah itu, terselip pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar kegiatan Pramuka: belajar tidak mengenal kata terlambat.

Pesan itu disampaikan Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si.  saat membuka kegiatan yang diselenggarakan DPD Forum Komunikasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (FK PKBM) Kabupaten Kuningan tersebut.

Peserta yang datang dari berbagai PKBM di Kabupaten Kuningan bukan sekadar mengikuti agenda perkemahan. Mereka sedang menjalani sebuah proses belajar yang berlangsung jauh dari batas-batas ruang kelas.

Bagi Bupati Dian, kemah bakti menjadi ruang untuk menanamkan karakter, membangun kepedulian, belajar bekerja sama, sekaligus menumbuhkan keberanian untuk bermimpi.

“Ini bukan hanya sekadar berkemah, bukan hanya sekadar bermalam bersama teman-teman. Ini merupakan proses pendidikan pembentukan karakter, memperkuat arti kebersamaan, saling menolong, kepedulian sosial, sekaligus mengembangkan kreativitas dan inovasi,” ujar Bupati Dian.


Sekolah Kehidupan Tak Selalu Bernama Ruang Kelas

Bupati Dian yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Pembimbing Cabang (Mabicab) Gerakan Pramuka Kabupaten Kuningan menegaskan, pendidikan kesetaraan mempunyai posisi penting dalam membuka kembali pintu kesempatan bagi masyarakat yang sebelumnya menghadapi berbagai hambatan dalam memperoleh pendidikan.

Melalui Paket A, Paket B dan Paket C, masyarakat tetap memiliki kesempatan untuk belajar, meningkatkan kapasitas diri, dan menata masa depan.

Karena itu, ia menyampaikan sebuah kalimat sederhana yang menjadi pesan utama dalam kegiatan tersebut.

“Tidak ada kata terlambat untuk belajar,” tegasnya.

Menurut Dian, belajar tidak berhenti ketika seseorang keluar dari ruang kelas. Kehidupan sosial, lingkungan, kegiatan kemasyarakatan, alam terbuka, bahkan pengalaman menghadapi persoalan bersama merupakan bagian dari pendidikan.

Di sanalah nilai sebuah Kemah Bakti Pendidikan Kesetaraan menemukan relevansinya.

Kegiatan tersebut memadukan pendidikan, kepramukaan, kegiatan sosial, kepemimpinan, kebudayaan hingga kesehatan.

“Ini luar biasa. Ini memadukan tentang pendidikan, kepramukaan, kegiatan sosial, kepemimpinan, kebudayaan dan kesehatan. Ini jarang ditemukan dalam pendidikan yang bersifat formal, apalagi hanya di dalam kelas,” katanya.


Belajar Peduli dari Sampah hingga Tanaman

Kemah bakti juga tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Sejumlah kegiatan sosial menjadi bagian penting dari rangkaian acara, mulai dari bakti sosial, penanaman bibit tanaman hingga pemungutan sampah.

Bagi Bupati Dian, kegiatan semacam itu merupakan cara sederhana untuk mengajarkan sesuatu yang sering kali sulit disampaikan hanya melalui teori: **empati.**

“Yang susah kita berikan bantuan, yang lemah kita berikan dorongan. Ini pembelajaran yang luar biasa,” ujarnya.

Ia pun menitipkan pesan khusus kepada peserta agar semangat menjaga lingkungan tidak hanya berlangsung selama kegiatan.

“Tadinya bersih, setelah selesai kemah juga harus bersih,” pesannya.

Persoalan sampah, kata Dian, tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah. Penanganannya harus dimulai dari kesadaran masyarakat, bahkan dari rumah masing-masing.

“Sampah adalah tanggung jawab kita bersama, dimulai dari hulu ke hilir, dimulai dari sampah rumah tangga,” katanya.


Dari PBB hingga Pioneering, Menempa Kemandirian

Selama mengikuti kemah, peserta akan berhadapan dengan berbagai aktivitas yang menuntut kedisiplinan, ketangkasan dan kerja sama.

Mulai dari Peraturan Baris-Berbaris (PBB), pioneering, Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K), pengetahuan kepramukaan hingga berbagai permainan.

Bagi Dian, kegiatan itu bukan sekadar perlombaan atau permainan untuk mengisi waktu. Ada nilai kemandirian dan tanggung jawab yang sedang ditanamkan.

Karena itu, ia mengingatkan peserta untuk tidak takut mencoba dan tidak takut memiliki cita-cita.

“Jangan takut untuk mencoba, jangan takut untuk bermimpi, jangan takut untuk mempunyai cita-cita,” pesan Bupati Dian.

Ia bahkan melihat kemungkinan bahwa orang-orang yang berdiri di hadapannya hari itu suatu saat akan menjadi bagian dari pembangunan Kabupaten Kuningan.

“Tidak menutup kemungkinan di hadapan saya kalian adalah penerus cita-cita masa depan Kabupaten Kuningan,” ungkapnya.

Kalimat itu sekaligus menjadi pengingat bahwa pendidikan kesetaraan bukan pendidikan kelas dua. Dari ruang-ruang PKBM, selalu terbuka kemungkinan lahirnya generasi yang kelak mengisi berbagai profesi dan bidang pengabdian.


Ketika Tradisi Bertemu Generasi Digital

Ada pula sisi lain yang mendapat perhatian Bupati Dian: karnaval budaya dan permainan tradisional.

Di tengah kehidupan generasi muda yang semakin lekat dengan gadget dan teknologi, permainan tradisional dinilai tetap memiliki tempat penting. Bukan semata karena bernostalgia, tetapi karena di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, sportivitas, kreativitas dan filosofi kehidupan.

“Mudah-mudahan dengan kegiatan seperti ini permainan-permainan tradisional kembali diingatkan untuk dilestarikan, karena mengandung makna dan filosofi yang luar biasa,” tuturnya.

Kemah pun akhirnya menjadi semacam ruang perjumpaan antara masa lalu, masa kini dan masa depan 

Tradisi tetap dijaga, teknologi tidak ditinggalkan, sementara pendidikan karakter menjadi jembatan di antara keduanya.


Membangun Kuningan Tak Bisa Sendirian

Menjelang akhir sambutannya, Bupati Dian mengajak seluruh pengelola PKBM, tutor, pembina, pendamping serta pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi.

Menurutnya, pembangunan Kabupaten Kuningan bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan pemerintah seorang diri.

“Saya sebagai Bupati tidak bisa berjalan sendiri, tidak bisa membangun sendiri tanpa dukungan dari seluruh masyarakat, elemen masyarakat,” katanya.

Pesannya kepada peserta pun sederhana, tetapi sarat makna.

“Jaga kekompakan, jaga kesehatan, yang terpenting juga jaga kebersihan. Tunjukkan bahwa kalian adalah generasi harapan bangsa, generasi penerus yang hebat,” pesannya.

Kemah Bakti Pramuka Pendidikan Kesetaraan Kabupaten Kuningan Ke-V Tahun 2026 kemudian resmi dibuka oleh Bupati Kuningan. Pembukaan ditandai dengan **penancapan kapak dan pelepasan burung merpati**.

Dari Mandalajaya, sebuah pesan pun kembali ditegaskan: pendidikan bukan soal kapan seseorang memulainya, melainkan tentang keberanian untuk terus melangkah.

Sebab, selama masih ada kemauan untuk belajar, **selalu ada jalan menuju masa depan.**

Rumah-Rumah Bagus di Kuningan, Mengapa Masih Disebut Miskin Ekstrem?


KUNINGAN – LINTAS NASIONAL 

Ada pemandangan yang membuat Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bertanya-tanya ketika menyusuri berbagai wilayah di Kabupaten Kuningan.

Di tengah label Kuningan sebagai salah satu daerah yang masuk kategori miskin ekstrem, Dedi justru mengaku banyak menemukan rumah warga dengan kondisi bangunan yang bagus, bahkan mewah.

Pengalaman melihat langsung kehidupan masyarakat itu membuatnya mempertanyakan ukuran kemiskinan yang disematkan kepada Kabupaten Kuningan.

“Melihat kategori Kuningan miskin saya justru menolak. Sebab, saya ini sering keliling Kuningan dan rumah warga itu sangat bagus-bagus dan mewah,” kata Dedi Mulyadi, dikutip Rabu (2/9/2026).

Bagi Dedi, persoalan kemiskinan tidak cukup hanya dibaca dari satu sisi. Kondisi fisik wilayah ataupun indikator tertentu, menurutnya, perlu dilihat bersama dengan kenyataan kehidupan masyarakat di lapangan. Sebab, apa yang ia temui ketika berkeliling Kuningan memberikan gambaran yang berbeda.

Rumah-rumah warga yang ditemuinya banyak memiliki kondisi bangunan yang baik. Pemandangan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan: jika kondisi tempat tinggal sebagian masyarakat terlihat baik, bagaimana Kuningan bisa masuk dalam kategori daerah miskin ekstrem?

Namun, persoalan ekonomi masyarakat Kuningan tentu tidak berhenti pada kondisi rumah.

Di balik rumah-rumah yang terlihat bagus itu, terdapat cerita lain tentang bagaimana sebagian warga Kuningan harus mencari penghidupan hingga ke luar daerah.

Kuningan selama ini dikenal sebagai daerah yang banyak warganya merantau. Mereka mencari nafkah dengan berbagai usaha sederhana, mulai dari berjualan bubur kacang hijau, kopi, hingga mi instan.

Bagi sebagian warga, usaha tersebut menjadi jalan untuk mempertahankan kehidupan sekaligus memenuhi kebutuhan keluarga.

Tetapi, menurut Dedi, jumlah pelaku usaha asal Kuningan kini mulai berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Persaingan usaha yang semakin ketat menjadi salah satu tantangan. Di berbagai daerah, termasuk kota-kota besar, para pedagang asal Kuningan harus berhadapan dengan pelaku usaha dari daerah lain. Salah satunya adalah keberadaan warung Madura yang kini mudah ditemui di berbagai wilayah.

“ Kini jumlah tidak banyak seperti tahun-tahun sebelumnya. Apalagi kondisi di setiap daerah atau di kota besar, pelaku usaha warga Kuningan ini dihadapkan dengan pesaingnya atau kita kenal dengan warung Madura,” ujarnya.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan ekonomi masyarakat tidak selalu dapat diukur hanya dari tampilan sebuah rumah atau kondisi lingkungan tempat tinggal.

Ada warga yang memiliki rumah bagus, tetapi tetap harus merantau jauh untuk memperoleh penghasilan. Ada pula masyarakat yang bertahan melalui usaha kecil di tengah persaingan yang semakin ketat.

Karena itu, Dedi menilai pemerintah memiliki pekerjaan penting untuk memperkuat kemampuan masyarakat, terutama dari sisi sumber daya manusia dan pengelolaan usaha.

“Terutama pemerintah harus dapat memberikan pembekalan secara SDM tentang tertib manajemen,” katanya.

Menurut Dedi, kemampuan mengelola usaha secara tertib menjadi bagian penting agar masyarakat tidak hanya mampu membuka usaha, tetapi juga dapat mempertahankannya dan berkembang di tengah persaingan.

Tak berhenti pada gagasan peningkatan kapasitas masyarakat, Dedi juga menawarkan bantuan kepada Pemerintah Kabupaten Kuningan untuk membangun usaha besar atau toko modern yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Gagasan itu membuka kembali pembicaraan mengenai wajah ekonomi Kuningan.

Sebab, di satu sisi terdapat label kemiskinan ekstrem. Di sisi lain, Dedi melihat rumah-rumah warga yang menurutnya bagus dan mewah, sekaligus menemukan masyarakat Kuningan yang selama bertahun-tahun mengandalkan usaha kecil dan perantauan sebagai sumber penghasilan.

Pada akhirnya, persoalan yang disoroti Dedi bukan sekadar soal bagaimana Kuningan diberi label miskin atau tidak miskin.

Lebih dari itu, ada pertanyaan yang perlu dijawab bersama: seberapa jauh ukuran kemiskinan mampu menggambarkan kehidupan masyarakat yang sesungguhnya di lapangan?

Pertanyaan tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk melihat persoalan ekonomi Kuningan secara lebih utuh—bukan hanya dari angka, tetapi juga dari kehidupan nyata masyarakatnya.

(Mulyono)

Napak Tilas Hari Jadi Kuningan ke-528, Bupati Dian Ziarah ke Makam Para Leluhur

 


KUNINGAN – Lintas

Peringatan Hari Jadi ke-528 Kuningan tidak hanya menjadi momentum perayaan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menengok kembali jejak sejarah dan mengenang jasa para leluhur yang telah memberikan warna penting bagi perjalanan daerah.

Hal itu ditunjukkan Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., bersama Wakil Bupati Hj. Tuti Andriani, S.H., M.Kn., dan Sekretaris Daerah U. Kusmana, S.Sos., M.Si., melalui rangkaian ziarah ke makam para tokoh leluhur, Senin (31/8/2026).

Rombongan pertama menyambangi makam Pangeran Rama Jaksa Patikusuma yang berada di Kelurahan Winduherang, Kecamatan Cigugur. Prosesi ziarah berlangsung khidmat sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan perjuangan tokoh yang menjadi bagian dari sejarah Kuningan.

Turut mengikuti kegiatan tersebut Ketua TP PKK Kabupaten Kuningan, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Kuningan, Kabag Kesra Setda Kuningan, serta sejumlah unsur lainnya.

Sesampainya di kompleks makam, Bupati Dian bersama rombongan mengikuti prosesi ziarah dan doa bersama. Suasana khidmat terasa ketika doa dipanjatkan sebagai ungkapan penghormatan sekaligus rasa terima kasih kepada para leluhur yang telah mewariskan nilai-nilai kehidupan bagi generasi penerus.

Bagi Pemerintah Kabupaten Kuningan, ziarah leluhur memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar agenda seremonial Hari Jadi. Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi untuk memahami kembali perjalanan panjang Kuningan sekaligus menggali nilai perjuangan yang dapat dijadikan pijakan dalam membangun daerah pada masa kini dan masa mendatang.


Pangeran Rama Jaksa Patikusuma, Raja, Panglima, dan Ulama

Juru pelihara makam, Andi, menjelaskan bahwa Pangeran Rama Jaksa Patikusuma dikenal sebagai sosok yang memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Kuningan.

Dalam tradisi sejarah lokal, Pangeran Rama Jaksa Patikusuma dikenal memiliki tiga peran sekaligus, ykni sebagai raja, panglima, dan ulama.

Sebagai ulama, Pangeran Majaksa Pati Kusuma turut berperan dalam menyebarkan agama Islam pada masanya. Kiprahnya tidak berhenti pada kehidupan keagamaan, tetapi juga mencakup peran dalam membangun serta membimbing kehidupan masyarakat.

Sosok tersebut juga dikenal sebagai seorang pendidik. Salah satu tokoh yang mendapatkan pendidikan dan pengasuhan darinya adalah Pangeran Kuningan, Surangga Jaya, yang kelak dikenal sebagai Pangeran Arya Kamuning.

Dalam tradisi tersebut, Pangeran Rama Jaksa Patikusuma juga mempunyai gelar lain, yakni Ki Gedeng Kemuning. Dari nama dan gelar tersebut, Surangga Jaya kemudian disematkan nama Pangeran Kemuning sebagai bentuk keterkaitan dengan sosok pengasuh sekaligus pendidiknya.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa perjalanan sejarah Kuningan tidak semata-mata dibentuk oleh kekuatan pemerintahan. Pendidikan, dakwah, dan keteladanan para tokoh pada masanya juga menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat.

Hingga kini, jejak Pangeran Rama Jaksa Patikusuma di Winduherang masih menjadi bagian dari warisan sejarah yang terus dikenang. Keberadaan makamnya menjadi pengingat terhadap peran para leluhur dalam membentuk kehidupan sosial, keagamaan, dan pemerintahan di wilayah Kuningan.


Ziarah Berlanjut ke Makam Pangeran Arya Adipati Ewangga

Usai berziarah ke makam Pangeran Rama Jaksa Patikusuma, Bupati Dian bersama rombongan melanjutkan ziarah ke makam Pangeran Arya Adipati Ewangga yang juga berada di Kelurahan Winduherang.

Rangkaian napak tilas sejarah tersebut kemudian berlanjut menuju Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon.

Ziarah ke sejumlah makam leluhur tersebut menjadi bagian dari perjalanan untuk melihat kembali keterkaitan sejarah Kuningan dengan perkembangan Islam dan pemerintahan di wilayah Cirebon dan sekitarnya.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Kuningan menegaskan bahwa menghormati leluhur bukan hanya tentang mengenang masa lalu.

Lebih dari itu, nilai perjuangan, pengabdian, pendidikan, dakwah, dan keteladanan para pendahulu diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi sekarang untuk terus melangkah membangun Kuningan dan menatap masa depan dengan lebih baik.


(Mulyono)

Bupati Dian: Internet Kini Jadi Infrastruktur Kehidupan, ISP Diminta Tak Sekadar Kejar Pelanggan

 


KUNINGAN – Lintas

 Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. mendorong pelaku usaha penyedia layanan internet (ISP) tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan jumlah pelanggan dan keuntungan bisnis.

Menurut Dian, internet saat ini telah berkembang menjadi bagian penting dari infrastruktur kehidupan masyarakat. Perannya menjangkau berbagai sektor, mulai dari pemerintahan, pendidikan, UMKM hingga pertanian.

Hal tersebut disampaikan Bupati Dian saat menghadiri Festival Pantura IX Paguyuban ISP SUCIAYUMAJAKUNING(Subang-Cirebon-Indramayu-Majalengka-Kuningan) Volume 3 yang digelar Paguyuban ISP Suciayu Majakuning di Ipukan Highland, Kabupaten Kuningan, Minggu, (30/8/2026).

“Internet hari ini sudah berbicara tentang infrastruktur kehidupan,” kata Dian dalam sambutannya.

Ia mencontohkan pelayanan pemerintahan yang kini semakin bergantung pada teknologi digital. Begitu pula siswa yang membutuhkan internet untuk belajar, pelaku UMKM untuk mengembangkan usaha, serta petani yang membutuhkan informasi harga dan teknologi pertanian.

Karena itu, Dian menilai keberadaan para pelaku ISP memiliki peran strategis dalam pembangunan daerah.

Ia meminta pertumbuhan industri ISP tidak hanya dilihat dari sisi kuantitas pelanggan, tetapi juga harus dibarengi peningkatan kualitas layanan, inovasi dan kontribusi sosial ekonomi.

“Jangan tumbuh hanya dari sisi kuantitas pelanggan saja, tapi juga inovasi kualitas dan kontribusi sosial ekonominya,” ujarnya.

Bupati Dian menilai bisnis internet memiliki dampak yang lebih luas dibanding sekadar transaksi penyediaan bandwidth.

Menurutnya, akses internet memberikan kesempatan bagi masyarakat, khususnya anak-anak di desa, pelaku UMKM hingga petani untuk berkembang dan terhubung dengan berbagai peluang.

“Bapak Ibu tidak hanya menjual bandwidth. Sebetulnya Bapak Ibu membuka kesempatan,” ucapnya.

Kesempatan tersebut, lanjut Dian, antara lain berupa akses pendidikan bagi anak-anak desa, peluang pengembangan usaha bagi UMKM, hingga akses informasi bagi petani untuk meningkatkan produktivitas.

Ia pun meminta pemerataan akses internet terus diperkuat hingga wilayah pedesaan. Kabupaten Kuningan memiliki 376 desa dan kelurahan. Dian berharap transformasi digital tidak hanya terkonsentrasi di kawasan perkotaan, tetapi juga menjangkau masyarakat di pelosok.

“Jangan sampai transformasi digitalnya hanya terpusat di pusat kota saja. Saya juga titip di pedesaan-pedesaan,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Dian juga menyampaikan gagasan untuk menjadikan Paguyuban ISP Suciayu Majakuning sebagai salah satu kekuatan dalam membangun ekosistem ekonomi digital di Jawa Barat bagian timur.

Ia melihat forum yang mempertemukan ISP, mikro operator, reseller, vendor dan pelaku usaha lainnya sebagai bentuk kolaborasi yang penting.

Menurutnya, tidak ada pelaku usaha yang dapat berkembang secara optimal jika berjalan sendiri. Ia bahkan mengibaratkan kolaborasi sebagai bandwidth yang memiliki nilai besar karena mampu menghubungkan berbagai peluang.

“Kalau bandwidth ini internet bisa menghubungkan antarperangkat, maka kolaborasi ini akan menghubungkan antar peluang dan kesempatan,” tuturnya.

Dian berharap pertemuan tersebut tidak berhenti pada silaturahmi, tetapi menghasilkan kerja sama dan peluang baru yang memberikan manfaat bagi Kabupaten Kuningan.

Ketua Badan Pengurus Wilayah Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Jawa Barat, Geary M. Fherza, menyebut Paguyuban ISP Suciayu Majakuning sebagai salah satu paguyuban paling aktif di Jawa Barat.

Geary mengatakan APJII Jawa Barat membagi wilayah kerja menjadi enam kawasan, yakni Bogor-Depok, Bekasi Raya, Bandung Raya, Priangan Timur, Cianjur-Sukabumi, dan Suciayu Majakuning.

Dari enam wilayah tersebut, menurut dia, Suciayu Majakuning menjadi wilayah yang paling aktif dalam menggelar kegiatan.

“Yang paling kreatif, yang paling aktif, yang paling kegiatannya ada saja itu Suciayu Majakuning,” kata Geary.

Ia menyebut saat ini terdapat sekitar 288 ISP yang berdomisili di Jawa Barat. Sementara secara nasional terdapat sekitar 1.600 ISP yang beroperasi.

Gery menjelaskan, keberadaan paguyuban salah satunya bertujuan memperkuat daya saing ISP lokal agar mampu bersaing dengan perusahaan besar.

Menurutnya, ISP lokal memiliki peran penting dalam menjaga agar aktivitas ekonomi digital di daerah juga memberikan manfaat bagi daerah tersebut.

Dalam kesempatan itu, Geary juga menyinggung persoalan reseller ISP serta pentingnya kepatuhan terhadap regulasi.

Ia membedakan reseller legal yang berada di bawah ISP dengan praktik reseller ilegal yang tidak sesuai ketentuan.

Geary menegaskan kepatuhan terhadap regulasi diperlukan untuk menciptakan industri yang sehat sekaligus mencegah potensi kebocoran penerimaan negara.

Ia mengapresiasi komitmen para CEO ISP Suciayu Majakuning yang telah menyatakan kesiapan untuk menjalankan usaha sesuai aturan.

Sementara itu, Ketua Paguyuban ISP Suciayu Majakuning Deny Restu Ginanjar mengatakan saat ini terdapat 40 ISP yang tergabung dalam paguyuban tersebut.

Anggotanya tersebar di Kabupaten Subang, Indramayu, Kabupaten dan Kota Cirebon, Majalengka, serta Kuningan.

Khusus di Kabupaten Kuningan, terdapat lima ISP lokal yang berdomisili di daerah tersebut.

Selain para ISP, Festival Pantura IX juga diikuti 97 mikro operator, termasuk pelaku RT/RW Net dan reseller.

Deni mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum mempertemukan para pelaku ISP dengan vendor penyedia sarana dan infrastruktur, pelaku usaha serta stakeholder lainnya.

Pengurus HIPMI dari Kota Cirebon juga turut hadir dalam kegiatan tersebut.

“Betul-betul hari ini merupakan forum sinergi bisnis,” kata Deni.

Rangkaian Festival Pantura IX Volume 3 telah dimulai sehari sebelumnya melalui CEO Meeting yang menghadirkan perwakilan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk membahas regulasi terbaru industri ISP.

Pada malam harinya, panitia menggelar gala dinner sekaligus memberikan sembilan penghargaan kepada insan yang dinilai mendukung perkembangan ISP Suciayu Majakuning.

Festival Pantura IX Volume 3 di Kabupaten Kuningan menjadi penyelenggaraan pertama paguyuban tersebut di Kuningan.

Deni berharap forum tersebut dapat memperkuat kolaborasi antar pelaku usaha sekaligus membuka peluang kerja sama baru di sektor digital.

Dalam kegiatan tersebut, hadir jajaran pengurus dan anggota Paguyuban ISP Suciayumajakuning yang menaungi 40 perusahaan penyedia jasa internet (ISP) dari wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, dan Subang. Selain para CEO ISP beserta keluarga, kegiatan juga dihadiri Ketua Pengwil APJII Jawa Barat Geary M. Fherza, Ketua Paguyuban ISP Suciayumajakuning Denny Restu Ginanjar, serta perwakilan HIPMI Kota Cirebon.

Khusus pada agenda THC Pantura Expo 2026, turut hadir Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar, jajaran pengurus dan anggota HIPMI Kota Cirebon, serta sekitar 100 microoperator mitra bisnis ISP se-Suciayumajakuning.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar, Kadiskominfo Ucu Suryana diwakili Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Kuningan Cece Hendra Krissianto, Kepala Bidang Infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi Heri Juheri, Ketua Pengwil APJII Jawa Barat Geary M. Fherza, Ketua Paguyuban ISP Suciayumajakuning Denny Restu Ginanjar, jajaran pengurus dan anggota HIPMI Kota Cirebon, serta para CEO dan keluarga dari 40 ISP yang tergabung dalam Paguyuban ISP Suciayumajakuning. Turut hadir sekitar 100 microoperator mitra bisnis ISP se-Suciayumajakuning.

(Mulyono)

Hari Jadi ke-286 Sukamulya, Wabup Tuti Ajak Warga Jaga Kerukunan dan Gotong Royong


KUNINGAN – LINTAS

Wakil Bupati Kuningan Tuti Andriani mengajak masyarakat Kelurahan Sukamulya, Kecamatan Cigugur, untuk terus menjaga kerukunan, gotong royong, dan kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Wabup Tuti saat menghadiri puncak rangkaian peringatan Hari Besar Nasional (PHBN) di Kelurahan Sukamulya, Jumat, 28 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung di Jalan Cileuleuy itu sekaligus memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Hari Jadi ke-528 Kuningan, dan Hari Jadi ke-286 Kelurahan Sukamulya.

Wabup Tuti hadir mewakili Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar yang berhalangan hadir karena tengah menjalankan agenda di luar kota. Dalam kesempatan tersebut, Tuti menyampaikan salam hormat dari Bupati sekaligus membacakan sambutan Bupati Kuningan.

Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan ucapan selamat Hari Jadi ke-286 kepada seluruh masyarakat Kelurahan Sukamulya.

“286 tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Di dalamnya terdapat sejarah panjang, perjuangan, pengabdian, serta keteladanan para pendahulu yang telah membangun Sukamulya hingga menjadi bagian penting dari Kabupaten Kuningan yang kita kenal hari ini,” ujar Tuti membacakan sambutan Bupati.

Menurutnya, momentum hari jadi tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan. Peringatan tersebut perlu menjadi kesempatan untuk mengingat sejarah, mensyukuri berbagai capaian, mengevaluasi kekurangan, sekaligus meneguhkan kembali semangat membangun Sukamulya.

Momentum tersebut juga dinilai semakin istimewa karena berlangsung beriringan dengan peringatan 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi ke-528 Kabupaten Kuningan.

Tuti mengatakan, kemerdekaan yang dinikmati masyarakat saat ini merupakan hasil perjuangan dan persatuan para pendahulu. Karena itu, tugas generasi saat ini adalah mengisi kemerdekaan melalui kerja nyata.

“Kalau dahulu para pahlawan berjuang mengangkat senjata, maka perjuangan kita hari ini adalah melawan kemiskinan, kebodohan, stunting, pengangguran, kerusakan lingkungan, serta berbagai persoalan sosial yang masih ada di tengah masyarakat,” katanya.

Semangat tersebut, lanjutnya, harus diwujudkan melalui lingkungan yang aman, masyarakat yang rukun, pendidikan yang baik, ekonomi warga yang semakin kuat, serta pelayanan pemerintah yang semakin dekat dan semakin baik.

Wabup Tuti menegaskan, pembangunan Kabupaten Kuningan melalui semangat Kuningan Melesat tidak dapat hanya bertumpu pada pemerintah daerah. Pembangunan harus tumbuh dari desa dan kelurahan, kecamatan, keluarga, hingga masyarakat.

“‘Kuningan Melesat’ tidak akan pernah terwujud hanya dari kantor pemerintahan. ‘Kuningan Melesat’ harus tumbuh dari desa dan kelurahan, dari kecamatan dan keluarga, dari masyarakat termasuk dari Kelurahan Sukamulya,” ucapnya.

Ia pun mengapresiasi kondisi sosial masyarakat Sukamulya yang dinilai memiliki semangat kegotongroyongan, keguyuban, dan kebersamaan yang kuat.

Tuti mengajak seluruh warga mempertahankan kondisi tersebut serta terus memperkuat silaturahmi dan toleransi.

“Jangan biarkan perbedaan menjadi sumber perpecahan; jadikan perbedaan sebagai kekuatan,” tuturnya.

Menurut Tuti, keberagaman yang ada di Sukamulya dan Kecamatan Cigugur merupakan modal sosial yang harus dijaga bersama. Ia berharap tidak ada pihak yang mampu memecah belah masyarakat yang selama ini telah hidup dalam suasana kebersamaan.

Ia juga berharap Kelurahan Sukamulya dapat terus menjadi lingkungan yang aman, bersih, sehat, religius, produktif, dan nyaman untuk ditinggali.

Dalam kesempatan tersebut, pemerintah daerah turut memberikan apresiasi kepada Karang Taruna Caturangga, jajaran Kelurahan Sukamulya, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, ibu-ibu, serta seluruh warga yang telah bergotong royong menyukseskan rangkaian kegiatan.

“Pembangunan bukan hanya tentang jalan, gedung, atau infrastruktur. Pembangunan juga tentang membangun rasa memiliki, kebersamaan, dan optimisme masyarakat terhadap masa depan,” kata Tuti.

Sebelumnya, rangkaian kegiatan PHBN Kelurahan Sukamulya telah berlangsung sejak 1 Agustus 2026 dan dijadwalkan berakhir pada Sabtu, 29 Agustus 2026.

Ketua panitia, Ahmad Agil, dalam laporan kegiatan menyampaikan, berbagai agenda telah digelar untuk memeriahkan rangkaian peringatan tersebut. Kegiatan di antaranya berupa perlombaan olahraga seperti bola voli, tenis meja, bulu tangkis, dan futsal.

Selain kegiatan olahraga, masyarakat juga mengikuti ziarah ke makam para leluhur Sukamulya serta lomba mewarnai yang digelar untuk anak-anak.

Puncak kegiatan pada Jumat, 28 Agustus 2026 menjadi pembuka agenda puncak yang kemudian dilanjutkan pada Sabtu, 29 Agustus 2026 dengan karnaval dan jalan santai.

Ketua panitia menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga RT dan RW, para donatur, sponsor, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan sehingga rangkaian kegiatan dapat berlangsung dengan lancar, aman, dan penuh semangat kebersamaan.

kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, gotong royong, serta kecintaan masyarakat terhadap lingkungan dan daerahnya.

Ketua panitia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh jajaran panitia yang sejak awal Agustus telah mencurahkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menyukseskan seluruh rangkaian kegiatan.

Rangkaian acara puncak kemudian secara resmi dibuka melalui pemukulan gong sebanyak tiga kali


(Mulyono)

Percepat Penanggulangan Stunting, Pemkab Luncurkan Gerimis Dan Gematel



Kuningan - Lintas

Minum susu dan makan telur menjadi bagian dari ikhtiar Pemerintah Kabupaten Kuningan mempercepat penanggulangan stunting. Melalui Gerakan Minum Susu (Gerimis) dan Gerakan Makan Telur (Gematel), pemerintah mendorong keluarga membiasakan konsumsi pangan bergizi, terutama sumber protein hewani.

Gerakan tersebut diluncurkan di Desa Cibuntu, Kecamatan Cigandamekar, Kabupaten Kuningan, Jumat, 28 Agustus 2026. Program menyasar wilayah yang menjadi lokus penanggulangan stunting di Kabupaten Kuningan.

Wakil Bupati Kuningan Tuti Andriani, SH., M.Kn., mengatakan penanganan stunting tidak cukup dilakukan dengan melihat angka prevalensi. Di balik setiap angka terdapat anak dan keluarga yang membutuhkan perhatian.

“Stunting bukan sekadar persoalan pertumbuhan anak, tetapi menyangkut masa depan generasi kita,” demikian pesan Wabup Tuti.

Gerimis dan Gematel diarahkan untuk meningkatkan konsumsi pangan bergizi, khususnya susu dan telur. Kelompok yang mendapat perhatian khusus antara lain ibu hamil dan balita.

Pemerintah Kabupaten Kuningan menilai pemenuhan protein hewani merupakan salah satu bagian penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Karena itu, edukasi tentang makanan bergizi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan akses masyarakat terhadap pangan tersebut.

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan Dr. A. Taufik Rohman, M.Si., M.Pd., mengatakan penanggulangan stunting membutuhkan intervensi sejak dini, terintegrasi dan berkelanjutan. Penanganannya tidak hanya menyasar anak yang sudah mengalami stunting, tetapi juga pencegahan sejak masa kehamilan, pemenuhan gizi ibu dan anak, pola asuh, hingga ketahanan pangan keluarga.

Program tersebut juga memperlihatkan keterlibatan dunia usaha. Sebanyak 16 pelaku usaha peternakan memberikan dukungan dalam kegiatan penanggulangan stunting tersebut. Pemerintah daerah mengapresiasi dukungan itu sebagai bentuk kepedulian sektor usaha terhadap kualitas sumber daya manusia.

Sejumlah pelaku usaha yang tercatat dalam kegiatan tersebut antara lain PT New Hope Farm Indonesia, Atmaza Farm, CV Altel, PT Charoen Pokphand Jaya Farm, CV Wangun Unggas Perkasa, Koperasi Agri Berkah Kemuning, PT Sidosari Farm, PT Super Unggas Jaya, Koperasi Produsen Karya Nugraha Jaya Kuningan, Koperasi Konsumen Susu Laras Ati, Ersa Farm, KPSP Saluyu, PT AS Putra Group, CV Ryan Jaya Farm, PT Sari Bumi Farm, dan PT Sumber Inti Pangan.

Kolaborasi pemerintah, masyarakat dan dunia usaha menjadi salah satu kunci dalam program tersebut. Pemerintah daerah berharap dukungan melalui tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR tidak berhenti sebagai bantuan sesaat, melainkan berkembang menjadi gerakan berkelanjutan yang menjangkau lebih banyak keluarga, ibu hamil dan anak-anak.

Gerimis dan Gematel juga dimaksudkan untuk membangun kebiasaan konsumsi protein hewani sejak dini sekaligus mengoptimalkan potensi pangan lokal Kabupaten Kuningan. Keberhasilan program, menurut pemerintah daerah, nantinya tidak semata diukur dari banyaknya kegiatan yang digelar, tetapi dari perubahan status gizi, pola konsumsi, kesehatan ibu dan anak, serta kualitas hidup masyarakat.

Wabup Tuti menegaskan pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat dan dunia usaha diperlukan agar upaya penanggulangan stunting memberikan dampak nyata bagi generasi mendatang.

“Dari keluarga yang sehat, lahir generasi yang kuat. Dari generasi yang kuat, Kuningan melesat,” ujarnya.

Gerakan Minum Susu dan Gerakan Makan Telur tersebut kemudian secara resmi diluncurkan sebagai bagian dari upaya bersama memperkuat pencegahan dan penanggulangan stunting di Kabupaten Kuningan. 

(Mulyono)

Perkembangan Harga Bahan Pangan di Pasar Kepuh Kuningan, Kamis 27 Agustus 2026


Kuningan - Lintas 

Sejumlah komoditas bahan pangan di Pasar Kepuh Kuningan terpantau mengalami kenaikan harga pada Kamis (27/8/2026). Kenaikan antara lain terjadi pada beras, cabai rawit merah, buncis, dan beberapa komoditas lainnya.

Harga beras, cabai rawit merah, dan buncis juga terpantau naik,” kata salah seorang petugas pendata harga di Pasar Kepuh Kuningan.

Untuk komoditas beras, kenaikan terjadi pada jenis premium dan medium, meskipun perubahannya tidak terlalu signifikan.

Berikut perkembangan harga kebutuhan bahan pokok di Pasar Kepuh Kuningan:

 1. BERAS DAN KETAN

 Beras Premium: Rp14.900/kg, naik dari Rp14.800/kg.

 Beras Medium: **Rp13.000–13.500/kg**, naik dari Rp13.500/kg.

* Beras SPHP:  Rp12.000/kg.

* Ketan Putih: Rp23.000–25.000/kg.

* Ketan Hitam: Rp26.000/kg.


2. GULA


* Gula Pasir: Rp18.000–18.500/kg

* Gula Merah: Rp18.000–22.500/kg

3. MINYAK


* Minyak Curah: Rp21.500/kg.

* Minyak Kemasan: Rp17.500–23.000/liter tergantung merek.

* Minyak KITA: Rp15.700/liter


 4. TERIGU DAN GARAM


* Terigu Biasa: Rp8.500/kg.

* Terigu Segitiga Biru: Rp11.500–12.000/kg.

* Garam Yodium: Rp2.000/bungkus.

 5. CABAI


* Cabai Merah: **Rp20.000–25.000/kg**.

* Cabai Hijau: **Rp25.000/kg**.

* Cabai Rawit Hijau: **Rp40.000/kg**.

* Cabai Rawit Merah: **Rp50.000/kg**, naik dari Rp45.000/kg.

* Cabai Keriting Merah: **Rp35.000–40.000/kg**.

* Cabai Keriting Hijau: **Rp25.000/kg**.


 6. BAWANG


* Bawang Merah: **Rp25.000–30.000/kg**.

* Bawang Putih: **Rp30.000/kg**.

* Bawang Bombay: **Rp25.000–30.000/kg**.


 7. KACANG-KACANGAN


* Kacang Tanah: **Rp44.000–45.000/kg**.

* Kacang Hijau: **Rp37.000/kg**.

* Kacang Kedelai Impor: **Rp13.000–14.000/kg**.


 8. SAYURAN


* Wortel: **Rp12.000–14.000/kg**.

* Kol: **Rp6.000–8.000/kg**.

* Tomat: **Rp3.000–5.000/kg**.

* Buncis: **Rp15.000–17.000/kg**, naik dari Rp14.000–16.000/kg.

* Kentang: **Rp17.000–18.000/kg**.

* Ketimun: **Rp9.000–11.000/kg**, turun dari Rp10.000–12.000/kg.

* Sawi Putih: **Rp8.000/kg**.

* Bawang Daun: **Rp12.000–14.000/kg**.

* Labu Siam: **Rp6.000–7.000/kg**.

* Toge: **Rp14.000–15.000/kg**.

* Salada: **Rp10.000–15.000/kg**.


9. DAGING


* Daging Sapi: **Rp140.000/kg**.

* Daging Kambing: **Rp150.000/kg**.

* Daging Ayam: **Rp42.000–44.000/kg**.

* Daging Ayam Fillet: **Rp52.000/kg**, naik dari Rp50.000/kg.

* Daging Ayam Kampung: **Rp70.000/ekor**.


10. TELUR


* Telur Ayam: **Rp25.500–26.000/kg**, naik dari Rp24.000–25.000/kg.

* Telur Ayam Kampung: **Rp3.500/butir**.

* Telur Bebek: **Rp3.000/butir**.

* Telur Puyuh: **Rp45.000/kg**.


 11. IKAN


* Ikan Tongkol: **Rp30.000/kg**.

* Ikan Kembung: **Rp40.000/kg**.

* Ikan Bandeng: **Rp40.000/kg**.

* Ikan Gurame: **Rp75.000/kg**.

* Ikan Mujair: **Rp33.000/kg**.

* Ikan Lele: **Rp29.000/kg**.

* Ikan Teri Asin: **Rp80.000/kg**.

* Udang Tawar Sedang: **Rp55.000–60.000/kg**.


12. BUAH-BUAHAN DAN HASIL BUMI


* Jeruk Lokal: **Rp23.000–25.000/kg**.

* Pisang Ambon: **Rp8.000/kg**.

* Ketela Pohon: *

*Rp5.000/kg**.

* Ubi: **Rp8.000/kg**.

* Talas Biasa: **Rp8.000/kg**.

* Talas Bogor: **Rp12.000/kg**.


(Mulyono/Mulyadi PJS)

Diskanak Kuningan Siapkan 150 Desa untuk Program Budidaya Ikan Tematik



Kuningan - Lintas

Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, mempersiapkan sebanyak 150 desa untuk mengikuti program budidaya ikan tematik yang merupakan program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada 2026.

Kepala Diskanak Kuningan A. Taufik Rohman menyampaikan bahwa persiapan pelaksanaan program terus dimatangkan melalui koordinasi bersama pemerintah kecamatan, kepala UPTD Kannak, serta penyuluh perikanan.

“Kesiapan program ini membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah kecamatan, penyuluh perikanan hingga masyarakat penerima manfaat,” kata Taufik di Kuningan, Rabu.

Ia menjelaskan, koordinasi tersebut dilakukan untuk menyatukan pemahaman mengenai kebijakan, mekanisme pelaksanaan, hingga pola pendampingan program di lapangan.

Menurut Taufik, alokasi program untuk 150 desa tersebut menjadi peluang bagi Kabupaten Kuningan untuk memperluas pengembangan sektor perikanan budidaya sekaligus mendorong peningkatan produktivitas masyarakat.

Dalam pelaksanaannya, pemerintah kecamatan akan memberikan dukungan terhadap program di wilayah masing-masing. Sementara itu, penyuluh perikanan akan menjalankan fungsi pendampingan kepada masyarakat yang menjadi penerima manfaat.

“Koordinasi yang intensif diperlukan agar setiap tahapan program dapat berjalan efektif, tepat sasaran, dan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan,” ujarnya.

Taufik menambahkan bahwa program budidaya ikan tematik tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk meningkatkan produksi ikan. Program itu juga diharapkan dapat menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat.

Ia menilai sektor perikanan budidaya berpotensi menjadi salah satu penggerak perekonomian masyarakat apabila dikembangkan secara konsisten serta didukung dengan pendampingan yang memadai.

“Program ini menjadi bagian dari dukungan pemerintah terhadap penguatan ketahanan pangan melalui peningkatan produksi perikanan budidaya,” katanya.

Untuk memastikan pelaksanaan berjalan sesuai rencana, Diskanak Kuningan akan melakukan pendampingan, koordinasi, serta evaluasi secara berkelanjutan pada 150 titik lokasi yang telah disiapkan.

Taufik optimistis sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah kecamatan, penyuluh, dan masyarakat dapat membuat program tersebut memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi penerima manfaat.

“Dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan, program ini diharapkan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kemajuan sektor perikanan budidaya di Kuningan,” katanya.

Program Budidaya Ikan Tematik di Kabupaten Kuningan sendiri merupakan program nasional dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus memenuhi suplai protein.

Program tersebut bertujuan menjadikan desa sebagai lumbung protein mandiri dan membantu menyuplai kebutuhan ikan untuk berbagai program, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dalam penerapannya, teknologi budidaya yang digunakan meliputi sistem bioflok dan Mini RAS (Recirculating Aquaculture System). Kedua teknologi tersebut dinilai ramah lingkungan serta mampu menghemat penggunaan lahan.

Teknologi bioflok dan Mini RAS tersebut akan diterapkan untuk budidaya ikan lele dan nila. Kedua jenis ikan itu sebagian di antaranya sudah menjadi komoditas yang dibudidayakan oleh masyarakat setempat.

(Mulyono)

 



 

ads 728x90 B
Diberdayakan oleh Blogger.