# Ketika Kepedulian Menjadi Jalan Membangun Kuningan
Penulis: Mulyono
KUNINGAN– LINTAS
Pagi itu, halaman Kantor Pemerintahan Desa Sindang, Kecamatan Lebakwangi, terasa berbeda. Di tengah suasana peringatan Hari Jadi ke-528 Kabupaten Kuningan, terselip kebahagiaan sekaligus ketegangan kecil yang dirasakan 29 anak peserta khitanan massal.
Ada yang datang bersama orang tua. Ada pula yang mungkin masih menyimpan rasa cemas menghadapi pengalaman pertamanya. Namun, di balik suasana tersebut, tersimpan sebuah pesan besar: bahwa kepedulian terhadap sesama masih menjadi kekuatan penting dalam membangun daerah.
Sabtu, 12 September 2026, Sindang Group kembali menghadirkan kegiatan sosial yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Bukan pembangunan gedung tinggi, bukan pula peresmian jalan baru. Kali ini, perhatian diberikan kepada anak-anak melalui Khitanan Massal Bersama Sindang Group.
Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. Kehadirannya bukan sekadar memenuhi agenda pemerintahan, melainkan menjadi kesempatan untuk menyampaikan pandangan bahwa pembangunan Kabupaten Kuningan harus memiliki wajah kemanusiaan.
Di hadapan masyarakat, Bupati Dian menegaskan, pembangunan tidak boleh hanya dipahami sebagai urusan infrastruktur.
“Membangun Kuningan itu tidak hanya berupa jembatan, tidak hanya berupa jalan-jalan yang sedang kita perbaiki, tidak hanya berupa rumah-rumah atau gedung-gedung yang bagus, tetapi adalah kepedulian, rasa empati, silih asah, silih asih, silih asuh. Itu substansi dari kita membangun,” ujar Bupati.
Dari Kesuksesan di Perantauan, Kembali Mengingat Kampung Halaman
Di balik kegiatan sosial ini, terdapat sosok H. Eka, Direktur Sindang Group, yang bersama keluarga kembali menunjukkan kepeduliannya kepada masyarakat.
Bagi Bupati Dian, apa yang dilakukan Sindang Group memiliki arti lebih dari sekadar sebuah kegiatan sosial. Ada ikatan dengan kampung halaman. Ada rasa tanggung jawab moral. Ada keinginan agar keberhasilan yang diraih di perantauan tidak berhenti menjadi kebanggaan pribadi.
Kesuksesan, dalam pandangan tersebut, bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang melangkah meninggalkan kampung halaman. Kesuksesan juga diukur dari seberapa besar manfaat yang dapat dibawa pulang.
“Terima kasih Pak Haji Eka. Di tengah-tengah kelebihan rezeki, masih ingat kepada keluarganya, masih ingat kepada kampung halamannya, masih ingat kepada orang-orang yang kurang beruntung,” ungkap Bupati Dian.
Pesan itu terasa kuat di Desa Sindang. Sebab, kegiatan khitanan massal bukan hanya melibatkan warga setempat, tetapi juga masyarakat dari luar desa.
Sebanyak 29 anak mengikuti kegiatan tersebut. Delapan anak berasal dari Desa Sindang, sementara 21 anak lainnya berasal dari luar Desa Sindang. Mereka mendapatkan layanan khitan sekaligus bingkisan sebagai bentuk perhatian dari penyelenggara.
Angka 29 mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi setiap keluarga yang hadir, angka itu memiliki cerita masing-masing. Ada harapan orang tua. Ada doa yang dipanjatkan. Ada kebahagiaan ketika anak-anak mereka mendapatkan perhatian dan pelayanan dalam suasana kebersamaan.
Bukan Sekadar Sunatan, Melainkan Menanamkan Nilai Kehidupan
Khitanan massal menjadi salah satu bentuk kegiatan sosial yang dekat dengan masyarakat. Di dalamnya terdapat nilai keagamaan, kesehatan, dan kepedulian.
Bupati Dian menyampaikan bahwa khitan merupakan bagian dari syariat Islam sekaligus memiliki manfaat dari sisi kesehatan, terutama sebagai salah satu upaya menjaga kebersihan dan mengantisipasi risiko penyakit.
Namun, makna kegiatan tersebut tidak berhenti pada layanan yang diterima anak-anak hari itu.
Ada harapan agar mereka tumbuh menjadi generasi yang saleh, berbakti kepada orang tua, serta berguna bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
“Kita doakan agar menjadi anak yang saleh, anak yang berguna bagi nusa dan bangsa dan bisa membanggakan keluarga dan masyarakatnya,” tutur Bupati.
Di titik inilah kegiatan sosial menemukan makna yang lebih luas. Khitanan massal bukan hanya tentang sebuah acara yang diselenggarakan dan kemudian selesai. Ia menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi penerus melalui perhatian yang diberikan sejak dini.
Membangun Kuningan Tidak Bisa Sendirian
Bupati Dian juga mengingatkan bahwa pembangunan daerah bukan pekerjaan satu orang. Bupati, camat, kepala desa, pemerintah daerah, maupun lembaga pemerintahan lainnya tidak akan mampu berjalan sendiri tanpa dukungan masyarakat.
“Membangun itu bukan tugas bupati saja, bukan tugas pemerintah daerah saja, bukan tugas Pak Camat, tugas Pak Kepala Desa saja, tapi tugas kita semua,” tegasnya.
Pernyataan itu menjadi penting di tengah berbagai keterbatasan yang dihadapi pemerintah daerah. Bupati mengakui bahwa pembangunan Kabupaten Kuningan membutuhkan dukungan dari banyak pihak.
Dukungan legislatif, perangkat daerah, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga seluruh warga menjadi bagian dari kekuatan yang diharapkan mampu membantu Kuningan terus bangkit dan memperbaiki kondisi daerah.
“Tanpa doa para ulama, tanpa dukungan dari para tokoh masyarakat, tanpa dukungan dari masyarakat, saya akan sulit membangun,” katanya.
Dari sebuah kegiatan khitanan massal, pesan pembangunan itu kembali ditegaskan: bahwa pemerintah membutuhkan masyarakat, dan masyarakat memiliki peran dalam membangun daerahnya.
Desa Sindang Menjaga Tradisi Kepedulian
Kepala Desa Sindang, Nursamsi, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Eka beserta keluarga yang kembali menyelenggarakan khitanan massal untuk tahun kedua.
Bagi pemerintah desa, kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Program sunatan massal ini sangat bermanfaat bagi warga, khususnya warga saya, umumnya warga yang di luar Desa Sindang,” ujar Nursa
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa kegiatan sosial ini tidak dibatasi oleh batas administratif desa. Warga dari luar Desa Sindang pun turut merasakan manfaatnya.
Nursamsi berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan setiap tahun. Ia juga mendoakan agar Eka beserta keluarga senantiasa diberikan kesehatan, umur panjang, keberkahan, serta kelancaran dalam usaha sehingga dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Di sisi lain, harapan besar juga disampaikan untuk anak-anak peserta khitanan massal. Mereka didoakan agar menjalani proses dengan lancar, tumbuh menjadi anak yang saleh, berbakti kepada orang tua, agama, bangsa, dan negara.
Anak-anak tersebut, menurut Nursamsi, merupakan bagian dari generasi penerus yang kelak akan menjadi aset bangsa menuju Indonesia Emas.
Kepedulian yang Menghidupkan Harapan
Pembangunan sering kali dilihat melalui angka, bangunan, jalan, jembatan, dan berbagai capaian fisik. Namun, di Desa Sindang, sebuah kegiatan sederhana kembali mengingatkan bahwa pembangunan juga memiliki wajah lain.
Wajah itu adalah kepedulian.
Ia hadir ketika seseorang yang telah sukses masih mengingat kampung halamannya. Ia tumbuh ketika masyarakat saling membantu. Ia terasa ketika anak-anak mendapatkan perhatian, orang tua merasa terbantu, dan sebuah desa membuka ruang kebersamaan bagi warga dari berbagai tempat.
Khitanan massal Sindang Group menjadi salah satu contoh bahwa manfaat pembangunan tidak selalu hadir dalam bentuk yang megah. Kadang, ia hadir melalui sebuah kegiatan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Dan dari halaman Kantor Pemerintahan Desa Sindang, pesan itu kembali terdengar: membangun Kuningan bukan hanya soal apa yang didirikan, tetapi juga tentang kepedulian yang diwariskan.
Sebab, daerah yang kuat bukan hanya dibangun oleh infrastruktur yang kokoh, melainkan juga oleh masyarakat yang saling menguatkan.
Dari Sindang, kepedulian menjadi bagian dari pembangunan. Dari anak-anak hari ini, harapan untuk masa depan Kuningan terus ditanamkan.
Turut hadir: Ketua TP PKK Kabupaten Kuningan, anggota DPRD Kabupaten Kuningan dari Fraksi PKS, Camat beserta unsur Forkopimcam Lebakwangi, para mitra Sindang Group, lembaga desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta undangan lainnya.




Tidak ada komentar: