Penulis Mulyono Pemred Lintas Nasional
KUNINGAN – LINTAS NASIONAL
Balai Desa Cinagara, Kecamatan Lebakwangi, Selasa (15/9/2026), dipenuhi suasana suka cita. Musik, seni tradisi dan rangkaian kegiatan masyarakat mengiringi Milangkala Desa Cinagara ke-253.
Namun, di balik kemeriahan pesta ulang tahun desa yang telah berusia lebih dari dua setengah abad itu, ada persoalan yang belum selesai.
Jalan Cinagara-Langseb masih membutuhkan perhatian. Rumah warga yang belum layak huni masih menunggu perbaikan. Petani membutuhkan dukungan, sementara kawasan alun-alun desa ingin didorong menjadi ruang ekonomi baru bagi masyarakat.
Momen Milangkala akhirnya tidak sekadar menjadi panggung perayaan. Aspirasi pembangunan pun disampaikan langsung kepada Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., yang hadir bersama jajaran pemerintah daerah, Forkopimcam, anggota DPRD, tokoh masyarakat, tokoh agama dan warga.
Kuwu Desa Cinagara Tarya Somantri secara terbuka menyampaikan sejumlah kebutuhan yang masih dihadapi masyarakat. Salah satu yang cukup menonjol adalah kondisi ruas jalan Cinagara-Langseb.
Menurut Tarya, ruas tersebut memiliki kondisi yang labil. Persoalannya semakin kompleks karena drainase berada di bawah badan jalan dan jalur tersebut juga sering dilalui kendaraan dengan tonase besar.
“Kumargi Cinagara-Langseb teh labil Pak, drainasena ge masih di handap jalan. Hoyong mah dibeton kitu tah dugi ti Cinagara ka Langseb,” tutur Tarya.
Permintaan itu sederhana: jalan diperkuat dan dibeton agar akses masyarakat lebih aman dan mampu bertahan terhadap beban kendaraan yang melintas. Tetapi bagi masyarakat, jalan bukan sekadar infrastruktur.
Jalan adalah akses menuju pusat ekonomi, jalur aktivitas warga dan penghubung antarkawasan. Ketika kondisi jalan bermasalah, dampaknya bisa merembet ke aktivitas masyarakat.
Pembangunan Sudah Berjalan, Tapi Kebutuhan Belum Selesai Pemerintah Desa Cinagara sebenarnya bukan tanpa capaian.
Sejumlah pembangunan telah masuk ke desa tersebut. Penanganan bencana longsor, misalnya, dilakukan melalui pembangunan TPT di Dusun Kaliwon dan Dusun Parancan.
Pembangunan infrastruktur melalui dukungan APBD maupun aspirasi pokok-pokok pikiran anggota DPRD juga telah menyentuh jalan, jembatan dan jalan usaha tani.
Pada 2026, sejumlah program lainnya turut direalisasikan, termasuk peningkatan jalan, bantuan RTLH serta pengecoran jalan Cinagara-Buniasih. Tetapi pembangunan selalu menyisakan daftar kebutuhan baru.
Ketika satu ruas jalan diperbaiki, ruas lain masih membutuhkan penanganan. Ketika sebagian rumah warga mendapat bantuan, masih ada warga lain yang menunggu giliran.
Di situlah tantangan pembangunan desa terlihat: kebutuhan masyarakat terus bergerak, sementara kemampuan anggaran memiliki batas. 10 RTLH Disiapkan, Rp200 Juta Mengalir ke Rumah Warga
Di tengah persoalan tersebut, Bupati Dian membawa kabar yang langsung menyentuh kebutuhan dasar warga.
Sebanyak 10 rumah tidak layak huni (RTLH) di Desa Cinagara disiapkan untuk mendapatkan bantuan perbaikan.
Nilainya sekitar Rp20 juta per rumah, atau total kurang lebih Rp200 juta.
Bupati meminta Kuwu Cinagara segera mendata rumah warga yang membutuhkan bantuan tersebut.
“Sok mangga ku Pak Kuwu didata mana bae rumah tidak layak huni wargana di Cinagara. Ku abdi insyaallah sasih enjing ngawitan dilereskeun,” ungkap Dian.
Bantuan RTLH ini menjadi salah satu bentuk intervensi pembangunan yang langsung menyentuh kehidupan warga.
Sebab pembangunan tidak selalu berbicara mengenai jalan, gedung atau infrastruktur besar. Tempat tinggal yang layak juga menjadi bagian penting dari kualitas hidup masyarakat.
Petani Juga Mendapat Perhatian
Persoalan ekonomi masyarakat juga tidak luput dari perhatian.
Melalui Baznas, bantuan untuk Gapoktan Desa Cinagara direncanakan mencapai sekitar Rp250 juta.
Dana tersebut diarahkan untuk mendukung kebutuhan petani, termasuk pupuk dan sarana pendukung lainnya.
Dengan demikian, aspirasi yang muncul dalam Milangkala Cinagara tidak hanya berkutat pada pembangunan fisik.
Ada rumah warga yang perlu diperbaiki. Ada petani yang membutuhkan dukungan produksi. Ada jalan yang meminta perhatian. Dan ada UMKM yang membutuhkan ruang untuk tumbuh.
Alun-Alun Desa Ingin Jadi Pusat Ekonomi
Pemerintah Desa Cinagara juga memiliki gagasan lain: menjadikan kawasan alun-alun desa sebagai pusat kegiatan masyarakat sekaligus ruang ekonomi bagi pelaku UMKM.
Pembenahan bahkan telah dilakukan secara bertahap menggunakan PAD desa. Pagar diperbaiki dan paving block mulai dipasang.
Rencananya, kawasan tersebut dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pasar malam Sabtu.
“Manawi malam Sabtu aya pasar Pak di alun-alun teh, kanggo masihan peluang UMKM anu aya di Desa Cinagara,” ujar Tarya.
Gagasan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak hanya diarahkan pada pembangunan fisik, tetapi juga bagaimana ruang publik dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
253 Tahun Harus Dijawab dengan Kerja Nyata
Bupati Dian mengingatkan bahwa Milangkala ke-253 tidak semestinya hanya menjadi perayaan. Usia panjang Desa Cinagara harus menjadi momentum untuk mengevaluasi perjalanan pembangunan.
“Urang kedah ngemut, mun ceuk basa keren mah kedah evaluasi tos 253 tahun. Artina ieu desa penuh sajarah, pinuh ku prestasi, pinuh ku tradisi sareng budaya,” kata Dian.
Sembilan malam rangkaian Milangkala telah diisi berbagai kegiatan. Karaoke, calung, pencak silat dan kreasi seni dari berbagai blok menjadi bagian dari perayaan. Namun, puncaknya tidak berhenti pada hiburan.
Musrenbangdes digelar untuk membahas arah pembangunan dan penganggaran Desa Cinagara tahun 2027 hingga 2028. Artinya, setelah panggung perayaan selesai, pekerjaan sebenarnya justru menanti.
Aspirasi warga harus diterjemahkan menjadi program. Program harus masuk dalam perencanaan. Dan perencanaan harus dikawal agar benar-benar memberikan manfaat.
Bupati Dian mengakui masih banyak pekerjaan rumah di Kabupaten Kuningan, mulai dari infrastruktur jalan, kemiskinan hingga lapangan pekerjaan.
Keterbatasan anggaran membuat seluruh persoalan tidak dapat diselesaikan dalam waktu bersamaan.
“Upami urang teu guyub teu kompak mah sesah ngabangunna oge. Sami oge abdi sabagi Bupati, seueur pekerjaan rumah anu kedah diselesaikan,” katanya.
Pada akhirnya, Milangkala ke-253 Desa Cinagara bukan hanya tentang merayakan usia.
Ia menjadi cermin: sejauh mana pembangunan telah berjalan dan seberapa jauh kebutuhan masyarakat masih harus diperjuangkan.
Seperti pesan Bupati Dian, pesta boleh berlangsung meriah, tetapi esensinya adalah introspeksi.
“Ulah saukur kariyaan bae, tapi anu terpenting urang introspeksi, urang ngarenung sapira sejauh mana urang tos berbuat kanggo Desa Cinagara,” pungkasnya.




Tidak ada komentar: